Kamis, 26 September 2019

Goresan Reuni Akbar : Makna Persahabatan

Reuni Akbar , sekaligus perayaan ulang tahun sekolah kita dah usai minggu lalu.

Semua persiapan dan pelaksanaan nya sudah menempati sudut memori kita masing masing. 

Entah sampai kapan memori itu tetap segar sebelum tertumpuk kenangan kenangan lain yang akan mengisi hari hari kita selanjutnya. 

Seminggu? 
Setahun ?
Sepuluh tahun? 

Suka tidak suka
Diakui atau tidak
Kenangan Reuni Akbar kali ini pun akan menjadi tumpukan album belaka.
Tidak lebih


Rasa antusias itu
Kegembiraan itu
Energi itu
Hanya bisa kita rasakan pada momentum yang tepat

Yahhhh..... Hanya beberapa jam terakhir di hari Sabtu, 21 September 2019 itu. 

Pikiran itu sempat melintas
Sebelum rangkaian upacara pemotongan tumpeng di mulai.


Tumpeng indah yang dipotong
Dan diberikan sebagai bentuk apresiasi
Bukan hanya satu
Bukan hanya dua

Ada kue tart tinggi layaknya sebuah perayaan
Ada tumpeng nasi kuning sebagai ungkapan rasa syukur


Ada pula jajanan kuno, cenil dan teman teman nya,  yang diikat oleh lengketnya lelehan gula merah yang manis sebagai pelengkap.


Dan.... Satu meja tinggi berbentuk gunung menarik perhatian semua pihak. 

Ratusan jajan pasar tertata dengan rapi membentuk gunung setinggi lebih dari setengah meter itu.


Ada yang manis
Ada yang gurih
Banyak pula yang sudah susah kita temui di antara stand stand makanan ala korean atau japanesse akhir akhir ini.

Padahal, dari tumpukan jajan pasar di depan panggung Reuni kali ini, terselip  doa,  harapan dan kerinduan yang terekam bisu di sana. 

Seperti butiran ketan dalam sendokan pertama di pucuk gunung itu,  yang tidak akan bisa berdiri tegak tanpa ikatan butiran butiran lain.


Ingatkah kita tentang hal itu bila kita menjadi sebutir ketan yang bertengger di puncak itu? 

Setinggi apapun posisi dan jabatan kita,  ada kebersamaan orang orang di bawah yang mengikatkan diri mereka sendiri demi kestabilan posisi kita. 

Ada pula kue ku, atau kue thok,  yang dibentuk sedemikian rupa seperti apel.

Tahukah kita,  kue ku, yang berasal dari nama Tionghoa,  Ang Ku Kue,  memiliki segumpal doa yang dalam?



Berbentuk kura-kura yang melambangkan umur panjang,  kue ketan ini membungkus adonan kacang hijau yang manis,  lambang dari kerendahan hati sang kura kura yang menutup dirinya hingga orang di sekitarnya menemukan legit kehidupan di dalam nya. 

Tidak heran kue ku ini senantiasa hadir dalam perayaan hari besar Tionghoa. 

Ada lagi kue cucur yang hadir dalam dua warna yang berbeda, ikut ambil bagian dalam keindahan dan kemegahan gunung itu. 

Proses pembuatan kue cucur yang hanya satu langkah tanpa boleh dibalik dan hanya ditusuk untuk melihat kematangan nya,  dengan takaran adonan yang pas,  mengingatkan kita akan jejak kehidupan yang telah kita lalui, tentang waktu yang tidak bisa diputar balik. 

Tentang apapun yang sudah  kita lakukan dan kita ucapkan, yang  tidak bisa kita ulangi lagi. 

Tidak bisa kita ralat seperti merobek halaman buku begitu saja.



Menyakitkan kah kata kata kita? 
Melukai orang lain kah? 
Berdampak buruk kah tindakan kita? 

It's happened already. 

Tidak ada yang bisa diubah. 
Yang bisa kita kontrol adalah mencegahnya terjadi. 

Kata maaf kadang tidak mampu menyembuhkan luka yang telah tergores,  seperti bekas tusukan paku di atas sabun padat walau paku nya telah kita cabut dan kita buang jauh jauh. 

Dan ahhh.....  Kue mangkok!!



Kue mangkok itu mengintip di antara tumpukan jajan pasar itu! 

Mirip kue bolu kukus,  Fa Gao,  nama lain dari kue mangkok ini,  mengumandangkan doa kemakmuran bagi kita semua. Bangsa Tionghoa percaya,  semakin banyak kelopak yang mekar,  semakin makmur kehidupan mereka. 

Seperti kue ku yang berisi doa panjang umur,  kue mangkok pun senantiasa hadir dalam perayaan hari besar Tionghoa. 

Dan.......hai, ada si kue lumpur !!


Mungkin tidak banyak yang tau,  bahwa kue lumpur berasal dari sebuah fase kekeringan panjang. 

Gagal panen menyebabkan kelaparan di penjuru negeri.  
Yang tersisa hanya lumpur, lumpur,  dan lumpur belaka. 

Perih nya rasa lapar yang meremas lambung  memunculkan ide kreatif mereka. 

Lumpur pun kemudian mereka aduk dan olah sebagai pengganjal perut kosong mereka. 

Gigitan pertama pada kue lumpur itu tidak mampu menahan tetesan air mata ini.

Berapa banyak orang yang kelaparan di luar sana sementara makanan melimpah ruah di sini? 

Tidak hanya kue kue di atas,  puluhan kue lain nya kompak tersaji di depan panggung.


Manis nya kue talam. 
Asin nya kue lemper. 
Pedas nya risoles
Gurihnya kue sus. 
Segar nya buah dalam pie. 

Menyusun ragam rasa 
dalam kehidupan selama 55 tahun ini, 
selama SMAK St. Maria Langsep 
hadir di Malang. 



Ada ajakan untuk mengingat 
semua masa pahit kita. 
Ada bisikan untuk 
tidak melupakan asal kita. 
Ada harapan bagi masa depan kita.

Ada seruan untuk 
menggandeng rekan kita lain nya,  
sekecil apapun peran mereka, 
bagaikan sebutir ketan 
yang menopang keseluruhan 
tubuh almamater. 


Buat teman teman panitia 
Buat rekan rekan pengurus
Terima kasih atas kerja keras mu
Terima kasih atas ide mu
Terima kasih atas tumpukan jajan pasar mu

Makna persahabatan kalian selipkan 
di antara megahnya sebuah perayaan

Persahabatan adalah 
Ketika kami boleh mengingat 
teman kami yang tersisihkan

Persahabatan adalah
Ketika kami boleh memeluk dia 
yang mungkin telah kami lukai

Persahabatan adalah
Ketika kami mampu mengontrol
Ucapan dan tindakan kami

Persahabatan adalah
Ketika kami saling mendoakan 
Panjang umur dan kemakmuran



Walau album reuni kali ini telah menguning. 
Walau file nya telah terselip entah di mana, 

Pesan persahabatan ini
 tidak akan pernah luntur 
dari sanubari kami.

Pesan terdalam
Dari Reuni Akbar 55 th
SMAK St. Maria Langsep Malang 


Bravo, Sekolahku
Bravo, Ikasanmar
















1 komentar: