Ketika kita masih usia sekolah, gambaran kita tentang orang sukses adalah mereka yang berangkat pagi pulang malam setiap hari kerja dan santai di rumah bersama keluarga mereka di rumah pada akhir minggu.
Satu dasawarsa terakhir, gambaran tentang orang sukses itu bergeser.
Mereka yang nongkrong di cafe-cafe pada jam-jam kerja dengan memakai baju kantoran dan sibuk dengan gadget nya lah yang dianggap sukses.
Hari-hari ini tidak sedikit kita temukan banyak ibu-ibu rumah tangga menjalani kerja online, dan penghasilan mereka tidak kalah dengan suami mereka, membuat siapa pun tidak dapat menganggap remeh pekerjaan mereka.
Fenomena ini menunjukkan sesuatu kepada kita.
Dunia sudah berubah.
Dunia sedang berevolusi lagi.
Lagi? Ya, lagi, karena ini bukan yang pertama kali nya dunia perindustrian berevolusi.
Tahun 1784 adalah revolusi industri pertama
yang diawali penemuan mesin uap
dan diaplikasinya mesin mesin itu di dalam industri.
Tahun 1870, industri bereovolusi yang kedua
diawali dengan penggunaan mesin produksi masal
bertenaga listrik dan minyak.
Tahun 1969, revolusi indutri ketiga
dengan penggunaan teknologi informasi dan mesin otomatis.
Dan di tahun 2011, industri kembali berevolusi
buat yang terakhir kalinya sampai hari ini,
revolusi keempat yang diawali pengintegrasian
mesin dengan jaringan internet.
Industry versi 4.0
adalah sebuah perubahan besar besaran di sektor industri.
Dan lebih dikenal dengan revolusi industri 4.0.
Dan manusia di dalam nya adalah manusia 4.0
Berbagai sektor sudah siap menerapkan revolusi industri keempat ini, mulai dari makanan dan minuman, otomotif, tektil dan pakaian jadi, elektronik, kimia
Dunia sudah terkoneksi dengan jaringan internet.
Kita sudah bergandengan tangan dengan robot !
Kita lah manusia-manusia versi 4.0
Ini adalah fakta
Ini adalah kenyataan
Dan fakta lain nya adalah bahwa
perubahan ini membawa gangguan dan kekacauan.
Ingatkah beberapa tahun lalu ketika
banyak supir taksi dan angkot rame rame berdemo
saat penghasilan mereka berkurang
akibat transportasi berbasis aplikasi ?
Lihatkah kita
beberapa usaha ritel bangkrut
dan merumahkan karyawannya
karena membanjirnya online shop dan ecommerce?
Dan ini yang paling fenomenal adalah
uang kas tergantikan oleh OVO, Danaku, GoPay.
So get ready say bye bye to visa master!
Be ready to be the part of 4.0 industry !
Objek yang merasa terganggu jika terjadi perubahan adalah manusia.
Ironinya,
pengalaman dan kepandaian seseorang,
menghalangi nya untuk
membaca fenomena ini.
Oleh sebab itu ada istilah ‘jangan usik singa yang sedang tidur!’.
Saat pikiran sudah amat kental dengan pengalaman masa lalu
sudah makan asam garam kehidupan,
mungkin kita mengalami “the past trap” atau “success trap”.
Manusia versi 4.0 menanggalkan
semua kesuksesan dan pengalaman nya selama ini
Karena manusia versi 4.0 mampu bersikap flexible dengan perubahan.
Flexible saat cucu atau anak kita bisa duduk tenang saat makan
sambil lihat youtube daripada rayuan sendok terbang.
Flexible saat acara tv lebih banyak menayangkan azab azab.
Flexible saat perusahaan memutuskan memangkas cost
yang dianggap tidak perlu.
Flexible saat perusahaan merekrut orang baru dan kita dirotasi.
Flexible ditengah persaingan pekerjaan.
Flexible lah selayaknya air
yang selalu berubah ubah menurut wadahnya tapi isinya selalu tetap.
Flexible bukan berarti mengubah value kita
Justru dengan perubahan,
value kita makin bernilai,
makin mampu melihat hari esok dari hari ini.
Fexible membuat kita makin kreatif,
memunculkan imajinasi imajinasi
dan ide ide liar yang selama ini mengendap.
Flexible justru membuat kita makin kompetitif.
Dan ketika manusia sibuk dengan kreativitas dan ide mereka,
Ada sisi lain yang akan mulai tergeser.
Sisi kemanusiaan
Sisi perasaan dan hati
Sisi kepedulian
Sisi cinta kasih
Kita memang hidup berdampingan dengan robot
Merobotkan manusia dan memanusiakan robot
Sudah menjadi wacana belahan dunia lain
Kita memang harus siap memasuki industry 4.0
Sesiap kita menjadi manusia seutuh nya
Manusia manusia yang menjadi harapan keluarga besar IKASANMAR.
Manusia manusia yang dibentuk oleh SMAK st. Maria Langsep Malang.
Sungguh, kami bangga menjadi bagian dari keluarga besar itu.
Bravo, sekolahku!!
Bravo Ikasanmar !

Tidak ada komentar:
Posting Komentar