Jumat, 19 Juli 2019

Ke Malang lah Aku Kan Kembali

Salah satu sudut dengan headline yang cukup eye-catching di sebuah media awal tahun ini tentang kota tempat kita bersekolah dulu,  mencuri perhatian kami.

"Malang siap mengembangkan Heritage Tourism." 
Ungkapan walikota Malang itu dikutip pada saat apel pagi di Balaikota pertengahan Januari lalu.

Wowwww.....
Heritage ? Warisan ? 
Beneran ?

Heritage bicara masalah peninggalan budaya
Peninggalan sejarah
Peninggalan kebiasaan kebiasaan para orang tua kita dulu

Heritage bicara masalah kota tua !
Malang bermaksud mempertahankan kelangsungan hidup kota tuanya !!


Malang dulu terkenal adem, sejuk semriwing... edum, dan kalau pagi sering kita dapati kabut atau pedut begitu orang Malang menyebutnya.

Jalanan masih banyak dijumpai angkutan umum roda tiga bemo dan dokar serta bronpit atau sepeda motor, dalam istilah wong Malang ... tak ketinggalan becak plus sepeda ontel turut meramaikan berlalu-lalang.

Tidak itu saja...

Masih ingat kan dengan bangunan khas
berwarna orens
dengan kotak berwarna serupa di depannya ?

Betul sekali... Kantor pos !

Kantor pos masih menjadi jujugan siapapun untuk bertukar kabar,
berkirim barang ataupun
sekedar membeli perangko.

Belum lagi dengan sosok pak posnya yang bikin kangen dengan teriakan khasnya : "pooooosss..."

Terlepas dari masalah perkotaan yang memang bukan wilayah kita, coba tanyakan pada mereka yang pernah tinggal di kota Malang pada tahun 80 an tentang kondisi Bhumi Arema sekarang.

Jawaban yang  spontan muncul adalah kalau nggak MACET ya PANAS.

Rindu tahun tahun itu.
Adalah ungkapan yang sanggup mewakili siapa saja yang pernah ada di sana.

Tentu saja.

Tidak ada lagi becak yang mangkal di depan stasiun kota atau di persimpangan jalan, seperti di pertigaan jalan Sarangan misalnya, yang sekarang telah berdiri hotel berbintang itu.


Tidak ada lagi bemo yang berseliweran di beberapa sudut kota.


Tidak tampak lagi para pejalan kaki yang bebas dari keringat karena panas nya udara atau becak yang mengangkut kita dengan satu dua orang teman di tengah hari bolong.


Begitu banyak kenangan kita di Malang, terekam rapi dalam album foto yang sudah menguning.

Album foto yang berasal dari gulungan film isi 24 atau 36 jepretan untuk 1 rol.
Gambar yang diambil dengan sangat hati-hati buat menghindari kesalahan jepret.
Foto yang dicetak dengan memecahkan tabungan ayam kita.



Sekarang panas, polusi, sejuk nya kurang,
Hanya lebih tertata rapi dengan berbagai pembangunan infrastrukturnya.
Mall dan cafe menjamur dimana mana, taman-taman  kota yang lebih indah.

Kemacetan yang timbul terutama dengan berjibun nya kendaraan roda dua tanpa diimbangi dengan pelebaran jalan, walau beberapa area tampak dah dibuka seiring dengan ekspansi kota.


Yah.....

Kami rindu kota kami dulu
Kota yang sejuk dan tenang

Kota yang membuat 
kami merasa aman
berjalan di pinggiran jalan raya
tanpa takut terserempet 
sepeda motor atau mobil 

Kota yang memungkinkan kami
melangkahkan kaki-kaki ini
tanpa takut polusi kendaraan
tanpa khawatir adanya genangan air
bekas hujan malam sebelum nya

Kota yang membuat 
kami merasa nyaman
walau dikelilingi oleh
banyak orang asing bagi kami


Tapi kami pun tidak menutup mata 
pada perkembangan jaman
yang menuntut fasilitas lebih
ruang gerak lebih
kecepatan lebih

Datangnya 25.000 mahasiswa baru dari luat daerah setiap tahun nya menuntut kota ini harus berbenah tanpa melupakan siapa mereka dulu.


Anak anak muda ini memiliki hak 
untuk belajar di kota ini.
Anak anak ini berperan penting 
dalam pertukaran budaya

Anak anak ini membuat kita bangga 
sebagai warga kota Malang
Sekaligus anak-anak ini pula lah 
yang membawa ribuan sepeda motor ke dalam kota, 
setiap tahun nya

Itu sebabnya, pencanangan Malang sebagai kota Heritage, seperti yang disampaikan pemerintah kota dalam awal tulisan ini sangat menginspirasi.

Ada warisan yang tidak bisa tidak, 
harus diselamatkan 
dari perputaran waktu
Ada peninggalan yang harus dipelihara
Ada kenangan yang harus dipahat


Team redaksi Langsep Book
sebagai bagian dari kota tercinta ini
siap memberikan kontribusi nya

lewat goresan pena mereka
lewat perjalanan panjang mereka
lewat roadshow mereka
dalam beberapa minggu ke depan

IKASANMAR
memiliki alasan untuk 
memberikan warna tersendiri 
pada reuni akbar 
bulan September nanti

Kembali ke era 80an
Kembali ke kota Malang
Kembali memutar film lama
di dalam memori kita


Sebuah moment yang
sulit untuk ditinggalkan

Sebuah kesempatan yang
belum tentu kembali lagi

Sedetik kerinduan dalam
satu seruan lantang, 

Malang, 
we are coming

2 komentar:

  1. MAKOBU Malang Kota Bunga
    AREMA Arek Malang
    Radio SENAPUTRA Om Ofan Tobing
    Trotoar Gaden
    Toko Buku Atom
    Toko Lido perempatan BCA
    πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€

    BalasHapus
  2. ...kota yg bikin kangen, tidak saja hawanya namun juga kulinernya : oskab en lecep !!!

    BalasHapus