Jumat, 19 Juli 2019

Kreativitas Putra Putri Bangsa

"Can you take us to the colorful village here ?" seorang teman dari USA menodongku di satu hari di kota dingin Malang.

What ?
Aku pun tersentak.

Mau bilang nggak tau tempat nya kok malu.
Mau bilang iya khawatir mereka kecewa.

Langkah pertama ku pun bertanya kepada orang hotel.  Dan kudapatkan satu nama daerah : Jodipan.

Di mana pula itu ?

Langkah berikutnya adalah menghubungi seorang teman yang pernah menjadi teman jalan di Malang namun sekarang tinggal nun jauh di sana buat bertanya tentang daerah itu. Dan jawaban nya pun membuat ku tersentak untuk kedua kalinya.

"Buat apa kamu ke sana ? Kampung nya kumuh. Banyak tukang minum dan pengangguran."

Mampus dahhhhh !!

So,  buat memastikan, aku pun meminta saran  mbah Google.

My goodness !! 
The Colorful Village in Malang hadir dalam banyak itinenary paket tour dari luar negeri !!

Sebagai tempat persinggahan menuju Bromo yang sudah mendunia, awal nya mereka mencoba mencari lokasi untuk membunuh waktu di Malang. Hingga akhir nya mereka menemukan sudut ini sebagai lokasi yang cukup menarik untuk dijual.

Tampak nya kampung yang dulu terkenal sebagai sarang penyamun ini dah menyulap diri nya sebagai salah satu tempat wisata dunia !


Publikasi dari luar negeri lah yang membuat aku, yang pernah menghabiskan masa remaja di kota ini, menjadi penasaran untuk berkunjung ke sana.

Satu hari pun ditetapkan.


Dilihat dari pinggir jalan besar, atap rumah-rumah di kampung yang tampak bersebelahan dengan sungai besar itu memang tampak menarik.

Tapi, come on, bule mau masuk ke kampung itu ?

Hati ku masih setengah nya berada di dalam kendaraan waktu akhir nya aku pun mengikuti mereka turun dan melangkah menyusuri jalan masuk ke sana.

Tapak pertama sudah membuat ku excited, kawan.


Kampung, memang.
Tapi bukan kampung yang selama ini kukenal.


Mata ku silau dengan warna warni yang menghantar tapak tapak kaki ini menaiki anak tangga di jalan poros kampung itu.


Dan semakin dalam, semakin terasa suasana berbeda dengan di jalan raya tadi.


Rumah-rumah di pinggir jalan itu tidak lah berbeda dengan rumah kebanyakan penduduk asli Malang  dengan jendela kayu yang kecil untuk menahan hawa dingin kota ini.


Tembok tembok tinggi di sekeliling nya yang menjadi ciri bangunan kuno pun sama.

Tapi sentuhan yang mereka berikan sungguh membuat nya tampak istimewa.


So instagramable


Beberapa warga tampak sedang menjalankan hari hari mereka, seperti biasa.
Kesibukan mereka tampak lebih tinggi dengan kedatangan beberapa wisatawan.


Malang yang katanya sudah panas dengan terik matahari nya tidak lah kami dapati di sini.
Payung warna warni tampak berderet rapi di atas jalanan yang kami susuri hari itu.
Begitu kreatif.


Beberapa orang malah tampak menghabiskan waktu di jalanan kampung ini.


Sungguh jauh dari kesan kumuh dengan banyak pengangguran dan peminum yang dulu banyak ditemui di daerah ini.


Melangkah lebih dalam, kami pun dituntun ke sebuah jembatan yang menghubungkan kampung ini dengan kampung sebelah. Sebuah jembatan karya anak bangsa yang mengundang decak kagum setiap kita.


Jembatan yang diklaim sebagai jembatan kaca pertama di Indonesia ini membentang sepanjang 20 meter dengan lebar 1,5 meter.

Jembatan karya putra-putri sebuah perguruan tinggi di kota ini menyusul ide awal mereka.

Yah, beberapa tahun lalu, kampung ini terancam akan digusur oleh pemerintah kota setempat dengan alasan keindahan, keamanan dan kenyamanan.

Delapan orang putra putri bangsa merasa tergerak melihat kampung padat penduduk ini. 
Kehidupan sosial mereka mencerminkan kehidupan orang orang kampung khas Indonesia yang sarat dengan gotong royong dan kekeluargaan.

Mengusik mereka sama dengan menggeser budaya itu jauh ke pinggir kota yang mulai dijamah tangan tangan metropolitan  ini.


Keprihatinan mereka terhadap masalah sosial ini membangunkan kreativitas dan keberanian untuk berbicara melontarkan ide mereka. 

Kreativitas dan keberanian yang kemudian mendapat dukungan penuh dari pihak akademika dan pemerintah setempat. 

Eksekusi pun dijalankan. 

Dengan menggandeng sebuah perusahaan cat, mereka pun mulai mengoleskan kuas pertama mereka di salah satu sisi kampung kumuh itu.

Dan kampung kumuh ini pun berubah menjadi sebuah area yang membanggakan warga kota Malang. 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar