Selasa, 25 Juni 2019

Sandal Jepit Go to B29

REFRESHING

Itulah yang ada di pikiran kami, mantan panitia Reuni Golden Age yang menamakan dirinya Pasukan Sandal Jepit.

Nama yang unik, yang berasal dari sandal jepit salah satu panitia yang  putus ketika rapat di berbagai tempat untuk kesuksesan agenda reuni kami itu.


Kepergian dua anggota Sandal Jepit dalam selang waktu 3 bulan secara mendadak menimbulkan kevakuman kegiatan kami, sampai akhirnya kami sadar, the life must go on.

Kehidupan harus tetap berjalan.
Kebahagiaan dan kesenangan harus tetap ada.
Kegembiraan dan keceriaan harus menjadi napas kami.

Dari banyak pilihan tujuan yang ada, kami memilih sebuah tempat paling tinggi yang ada di kawasan Gunung Bromo, sebuah tempat yang dijuluki Negara Di Atas Awan, B29.


Kami pun berangkat. 

Sunrise adalah moment yang paling mengagumkan di lokasi, sehingga kami pun berangkat subuh.

Mengambil jalan utara, kami tiba di kaki gunung ketika gelap belum juga berlalu. 

Deretan warung yang ada di sekitar lokasi parkir mengundang kami untuk melangkah.



Segelas kopi panas atau teh mungkin bisa membantu kami beristirahat sejenak setelah perjalanan 4 jam dari Malang,  sekaligus menunggu waktu yang tepat untuk naik ke tujuan utama kami di sana.


Keramahan khas penduduk pedesaan melengkapi kehangatan yang kami perlukan saat itu. 

Dari orang suku Tengger ini lah kami mendapat informasi tentang cara aman untuk melanjutkan sisa perjalanan.

Ojek.


Tidak ada pilihan mengharuskan kami merogoh kocek dan mengeluarkan seratus dua puluh lima ribu per orang untuk itu. 

Keharusan yang justru membuat kami bersyukur, karena akhirnya kami menyadari medan berat yang harus kami tempuh. 

Selain gelap dan menanjak sekitar 20-30 derajat, jalan setapak itu cukup membuat kaki kaki kami bekerja ekstra untuk menahan tubuh agar tidak terguling dari atas sepeda motor.


Aspal tipis. 
Kerikil dan batu batu kecil.
Tanah licin yang basah karena embun. 

Ditambah dengan hamparan tanah dengan kemiringan sekitar 70 derajat di kiri dan kanan roda sepeda motor yang kami naiki, sebuah hamparan ladang kubis atau kembang kol yang menjadi mata pencaharian penduduk setempat,
Sempat membuat salah satu dari kami mengeluh, 
"Cukup sekali ini saja. "

Ada kekhawatiran dan ketakutan menyelinap. 

Sementara ada pula yang bersemangat untuk segera tiba,  membuat fase pejalanan satu jam ini terasa ringan. 

Sampai akhirnya motor yang membawa kami pun berhenti di sebuah area.

Sebuah ucapan Selamat Datang 
menyambut kami di tengah beku nya pagi.


Dan kami pun terbelalak.
Keluhan kami sirna seketika. 
Pengalaman mengerikan itu pun terlupakan.

Here we are !!


Kabut tebal di bawah kaki kami 
layaknya hamparan permadani salju 
menuju ke kawah Bromo yang tampak di kejauhan sana. 

Kabut yang tidak hilang juga 
walau sinar matahari mulai datang. 
Kabut yang tampak bagai awan.

Negeri Di Atas Awan !!

Kami berdiri di atas awan !!
Kami ada di tempat tertinggi !

So amazing.


Tertinggi? 
Ternyata tidak. 
Sebuah perjalanan lagi 
siap mengantar kami ke lokasi selanjutnya,  B30.
Kami lah yang tidak siap 
untuk berangkat ke sana kali ini. 


Kami terpesona pada Sang Pencipta
Kami kagum dengan keramahannya
Kami tenggelam dalam kehangatan aura 
yang terbungkus oleh kebekuannya


B29 memang tidak dikenal banyak orang seperti Gunung Bromo.
B29 memang hanya satu sudut kecil dari kawasan wisata international itu
B29 hanya sebuah "jalan baru" yang mendadak menjadi viral karena liputan sebuah televisi swasta.

Sang reporter lah yang menamakan nya B29, sebuah bukit dengan 2900 mdpl / meter di atas permukaan laut.

Sebuah pikiran "nakal" pun menyelinap.
Sebuah hotel berskala international akan dibutuhkan di sini.

Bantahan dari penduduk Tengger 
yang mendiami area ini 
membungkam mulut kami.


Walau mata pencaharian mereka 
adalah sebagai petani kembang kol atau kubis, 
bawang dan kentang, 
namun mereka tidak pernah menganggap itu 
sebagai sebuah profesi.

Bertani adalah bentuk kepatuhan 
kepada ajaran leluhur, 
welas asih pepitu

Mereka percaya  
keharmonisan dengan alam adalah kunci kehidupan ini.
Merusak alam berarti membunuh diri sendiri.

Itulah sebabnya, 
hingga hari ini, 
tidak tampak setitik pun sentuhan tangan luar 
yang diijinkan menjamah tanah mereka.


Orang-orang sederhana ini
mengajari kami bahwa
uang bukan lah segalanya

Keharmonisan
Kerukunan
Keindahan
Kekeluargaan

Tidak dapat ditukar dengan apapun
termasuk oleh tumpukan lembaran kertas
berjudul RUPIAH 


Dari puncak gunung tertinggi
Dari negeri di atas awan
dari B29

Pasukan Sandal Jepit
akan melangkah lagi
untuk sebuah nilai kehidupan
yang tidak didapat di bangku sekolah




*Diceritakan oleh  Reni Tantra dan Andi Tasmiko










3 komentar: