Minggu, 30 Juni 2019

Terbaik Untukmu

IKASANMAR

Aku tau organisasi itu.
Ikatan alumni kita yang lintas angkatan itu kan?!

Mereka adakan playon tiap tahun lho
Reuni akbar juga berkala
Mereka bantu para guru yang perlu dibantu
Mereka suka kirim bunga dukacita juga


Hanya itu ?
Kok kayak organisasi kampung yah ?

Pemikiran itu lah yang membuat salah satu aktivis Ikasanmar menghubungi beberapa blogger lulusan SMAK St. Maria juga.

Dengan setengah hati mereka menerima ide untuk membuat blog untuk Ikasanmar.

Bila hanya untuk memfasilitasi teman-teman yang suka menulis,
cukup mudah membuat blog sendiri, bukan?!
Kalau hanya untuk share kegiatan,
akun sebagian besar teman sudah ada di berbagai sosmed.

Informasi yang terupdate ?
Group besar dan group kecil di Whatsapp jauh lebih akurat.


Berbagai objection itu pun disampaikan
Namun Ikasanmar tetap bersikeras
Blog khusus Ikasanmar harus dibentuk

Tak kenal maka tak sayang
Adalah pepatah lama yang masih berlaku hingga hari ini

Seberapa besar kita mengenal Ikasanmar ?
Seberapa banyak yang kita ketahui tentang Ikasanmar ?
Selain dari sekedar sebuah ikatan alumni ?


Para blogger menangkap gap itu
Dan berusaha untuk menjembatani nya

Well, okayyyyyyy

Pertemuan pertama pun di agendakan, 
antara pihak sekolah, Ikasanmar dan blogger.

Ide dari pihak organisasi, 
dipoles dengan masukan dari pihak sekolah, 
para blogger pun menyambut dengan antusias, 
"Kami akan lakukan yang terbaik untukmu."


Langsep Book pun lahir.

21 Maret 2019. 

Hari Jumat ketiga di bulan ke tiga 
pada tahun ke sembilanbelas di abad ke 21.
Artikel pertama 
Sekolahku, Dulu dan Sekarang 
dibuka oleh hampir 1000 orang !!

Wowwwww....... Kami terbelalak !

Ternyata banyak yang merindukan sekolah mereka dulu
Ternyata banyak juga yang ingin tau seperti apa sekolah itu sekarang


Artikel demi artikel pun diterbitkan 
secara rutin setiap hari Jumat
Kegiatan sekolah
Tokoh yang mungkin kita kenal
Kegiatan alumnus

Dengan rata-rata pembaca 
di atas 300 orang untuk setiap artikel
Para blogger makin menyadari kerinduan itu

Lebih dari sekedar foto
Bukan hanya sekelumit cerita
Langsep Book memiliki value almamater
Langsep Book membagi nilai kehidupan


"Belajar dari pengalaman," 
adalah kata-kata yang sering kita dengar.

Pengalaman pribadi 
mungkin sepuluh atau dua puluh tahun
Pengalaman dua pribadi bisa 
dua puluh atau empat puluh tahun

Pengalaman sekelompok orang 
akan menjadi dua ratus 
atau bahkan empat ratus tahun !

Langsep Book hadir sejalan 
dengan asas Ikasanmar yang 
berkekeluargaan, 
berkeilmuan dan 
berkemasyarakatan


Layaknya sebuah keluarga,
Kita saling bercerita 
ke mana kita menghabiskan liburan.
Kita saling berbagi kisah 
kesenangan dan kegembiraan

Kita saling bertukar informasi 
tentang anggota keluarga lain 
yang mungkin tidak sempat kita kenal secara langsung

Langsep Book menyiapkan wadah nya
Agar teman lain ikut merasakan indah nya perjalanan mereka
Agar teman lain merasa bangga seperti mereka
Agar teman lain memiliki antusias seperti mereka 


Layaknya sebuah ilmu
Yang tidak terbatas dalam ruang kelas dan lab
Yang tidak hanya dilakukan oleh guru
Yang bukan sekedar teaching

Seperti yang dikatakan Wakil Ketua Ikasanmar,
Eduard Koentjoro.

Alumni dan guru harus menjadi partner
Guru bicara teori
Alumni bicara realitas
Guru bicara ilmu murni
Alumni mengedepankan ilmu terapan

Langsep Book menyiapkan wadah komunikasi

Agar adik adik kelas mereka dapat melihat
bagaimana ilmu bukan hanya didapat
dari dinding - dinding ruangan kelas

Agar teman lain dapat mengadopsi
ide-ide inovatif mereka
Agar perubahan jaman
tidak membuat kita ketinggalan jaman


Layaknya sebuah masyarakat
Ada penjual dan pembeli 
Ada yang membutuhkan dan dibutuhkan

Ada yang memerlukan informasi
Ada yang membutuhkan motivasi
Ada yang mencari peluang
Ada yang sedang mencari jalan keluar

Who knows ?

Langsep Book memang sebuah wadah non komersil.
Langsep Book adalah sebuah sarana non profit
Namun dapat memberikan profit kepada para anggota nya

Inilah kehidupan
Inilah realita
Yang bukan sebuah teori 

Inilah tentang bagaimana
bertahan di dalam kerasnya kehidupan
Adalah tentang bagaimana
menjalani hidup yang lebih baik 


Adalah tentang bagaimana
menjadi dan membentuk
manusia-manusia yang 
penuh Kasih
Kompetense
Kreatif
Inovatif
Harmonis

Bila bukan kita, siapa lagi ?
Bila bukan teman-teman alumni,
siapa yang peduli pada almamater,
pada adik-adik kelas mereka,
pada anak-anak kelas mereka ?



Lewat teknologi dalam genggaman
Ide dicetuskan
Support diberikan
Teamwork dibentuk

Langsep Book menangkap peluang
Langsep Book memberikan yang terbaik
Untuk mu, almamaterku
SMAK St. Maria Langsep Malang

Terbaik untukmu
Bukan dengan apa yang tidak aku miliki
Tapi dengan apa yang aku miliki

Terbaik untukmu
Bukan dengan apa yang aku tidak bisa
Tetapi dengan apa yang bisa  aku lakukan

Langsep Book menyiapkan sarana nya




Send them your heart
So they know that someone cares
And their lives will be stronger and free
As God has shown us
by turning stones to bread
And so we all must lend
a helping hand
( We are the World - Michael Jackson )

Bila kau suka berbicara
ceritakan lewat suara
Bila kau suka menulis
bagikan lewat tulisan

Langsep Book menyiapkan waktu nya
Untuk mempercantik Ikasanmar

Langsep Book menyiapkan tenaga nya
Untuk mendandani
SMAK St. Maria Langsep Malang

Bravo, almamaterku !
Bravo, Ikasanmar ku !








Sabtu, 29 Juni 2019

Legenda Rawon Rampal

Kawan, tahukah nama makanan dengan bahan dasar keluwak (pangium edule, kluwek-Jawa, picung-Sunda) ? Benar sekali, rawon namanya. Rawon, ya ... siapa yang tidak kenal dengan makanan khas Jawa Timur ini. Traditional food ala East Java. Kuah itemnya itu lho yang bikin beda. Hitam manis, hitam yang menggoda, ha ha ha  ...

Kalau pas ke Malang, kurang rasanya kalo belum mampir ke Warung Rawon Rampal yang terkenal itu.

Lokasinya di jalan Panglima Sudirman Malang.  
Dekat Bank BCA.
Dan satu lagi ternyata warung ini milik sahabat teman sanmar'ers sendiri. 
Dah tahu belommmm siapa ..... ??? 
langsung aja ke TKP dan ketemu dengan beliau nya hi hi hi hi :-)


Tempatnya sebenarnya tak terlalu besar tapi sudah sangat terkenal. 
Pelanggannya tak hanya dari kota Malang tapi dari berbagai kota.

Bagi yang belum pernah kesini dimohon yang teliti aja nyarinya' karena warungnya nggak ada papan namanya sama sekali  ! 

Blank alias kosong, jadi nggak beda dengan rumah di kanan kirinya. Ha ha ha  ... inilah seninya. 
Berlapar-lapar dulu (nyari sono sini), berkenyang-kenyang kemudian (ketemu juga deh akhirnya).

Nama tempatnya Warung Soto Rampal, kerap juga disebut Warung Rawon Rampal

Yang bikin unik, nama ini pemberian para pelanggan. 

Bagi yang suka soto kasih julukan soto rampal. 
Sedang bagi yang rawonmania tidak mau kalah, beri trademark rawon rampal. 
Ha ha ha ... may be so.

Mungkin ini ya salah satunya yang membuat warung ini tetap eksis sampai sekarang. 

Satu lagi, jangan buru-buru duduk. Lho... Kok gitu ? 
Iya, pesen makanan dulu baru duduk. Ini kebiasaan di sini. He he he ... Unik ya ?


Presiden SBY pun sering mampir makan di sana jika sedang kunjungan ke Malang. 
Terbukti dari foto-foto yang dipasang di dinding warung soto Rampal ini. 

Hehehe .... beda dengan warung jadul lainnya, 
biasanya yang dipasang foto selebritis, 
kalau disini malah foto orang nomer satu di negeri ini saat itu


Soto dan rawon menjadi menu andalan, menu favorit pengunjung. 
Kami sendiri kompak memesan nasi rawon di tambah lauk babat rawis. 

Kuah rawonnya hitam pekat, nggak bening, 
dengan aroma keluwak yang khas. 
Rasa keluwaknya cukup nendang, 
berpadu dengan bumbu-bumbu pelengkap lainnya. 
Pas banget di lidah. 

Inilah yang namanya harmoni rasa. 
Top markotop. Irisan dagingnya pun gede-gede. 
Jadi tanpa ditambah lauk (gorengan) pun sudah mantap. 
Ssst, satu lagi, sambelnya jos gandos ...


Nggak ada habisnya kalau diomongin lebih baik dinikmati saja. 


Hmmm, babat nya pun nggak kalah enak. 
Babat rawis item yang empuk, manis
Klop dimakan bersama nasi rawon. 
Pas banget. 


Omong-omong nih, itu babat bisa empuk, punel kayak gitu ngerebusnya hampir semaleman lho, kawan! Huaduuuh, cape deh ...! 

Ngerebusnya pake arang biar matangnya sempurna dan menambah citarasanya. 
Waaah, luar biasa... 
Dan untuk menggoreng aneka lauk gorengan pun juga masih menggunakan arang. 
Mengolah makanan dengan menggunakan arang dipercaya dapat meningkatkan citarasa makanan. What do u think... ?  


Dan sotonya ?

Disajikan dengan kecambah dan daun seledri
Asap yang masih mengepul
menebarkan aroma harum kaldu

Kuah yang tidak begitu keruh
Ditambah dengan perasan jeruk nipis
Menajamkan rasa kaldu sapi nya

Sedikit sambal
Membuat lidah ini tidak bisa berhenti menari
Mantulllll


Sebenarnya selain soto dan rawon, Anda bisa memesan berbagai menu yang lain seperti nasi campur, bali telur atau nasi pecel. 

Juga tersedia berbagai snack seperti lumpia, risoles, mendol dan sebagainya. 

Minuman yang dijual juga beragam mulai es teh, es jeruk hingga soft drink. 

Jika suka krupuk juga bisa memilih sesuai selera. 

Dan lebih enaknya lagi, Anda bisa membeli bumbu pecel, soto dan rawon disini untuk dibawa pulang.

Jadi, tunggu apa lagi ?
Ladub yuk.....



*Terimakasih untuk rekan ku Nanang Supriadi/1986

Selasa, 25 Juni 2019

Sandal Jepit Go to B29

REFRESHING

Itulah yang ada di pikiran kami, mantan panitia Reuni Golden Age yang menamakan dirinya Pasukan Sandal Jepit.

Nama yang unik, yang berasal dari sandal jepit salah satu panitia yang  putus ketika rapat di berbagai tempat untuk kesuksesan agenda reuni kami itu.


Kepergian dua anggota Sandal Jepit dalam selang waktu 3 bulan secara mendadak menimbulkan kevakuman kegiatan kami, sampai akhirnya kami sadar, the life must go on.

Kehidupan harus tetap berjalan.
Kebahagiaan dan kesenangan harus tetap ada.
Kegembiraan dan keceriaan harus menjadi napas kami.

Dari banyak pilihan tujuan yang ada, kami memilih sebuah tempat paling tinggi yang ada di kawasan Gunung Bromo, sebuah tempat yang dijuluki Negara Di Atas Awan, B29.


Kami pun berangkat. 

Sunrise adalah moment yang paling mengagumkan di lokasi, sehingga kami pun berangkat subuh.

Mengambil jalan utara, kami tiba di kaki gunung ketika gelap belum juga berlalu. 

Deretan warung yang ada di sekitar lokasi parkir mengundang kami untuk melangkah.



Segelas kopi panas atau teh mungkin bisa membantu kami beristirahat sejenak setelah perjalanan 4 jam dari Malang,  sekaligus menunggu waktu yang tepat untuk naik ke tujuan utama kami di sana.


Keramahan khas penduduk pedesaan melengkapi kehangatan yang kami perlukan saat itu. 

Dari orang suku Tengger ini lah kami mendapat informasi tentang cara aman untuk melanjutkan sisa perjalanan.

Ojek.


Tidak ada pilihan mengharuskan kami merogoh kocek dan mengeluarkan seratus dua puluh lima ribu per orang untuk itu. 

Keharusan yang justru membuat kami bersyukur, karena akhirnya kami menyadari medan berat yang harus kami tempuh. 

Selain gelap dan menanjak sekitar 20-30 derajat, jalan setapak itu cukup membuat kaki kaki kami bekerja ekstra untuk menahan tubuh agar tidak terguling dari atas sepeda motor.


Aspal tipis. 
Kerikil dan batu batu kecil.
Tanah licin yang basah karena embun. 

Ditambah dengan hamparan tanah dengan kemiringan sekitar 70 derajat di kiri dan kanan roda sepeda motor yang kami naiki, sebuah hamparan ladang kubis atau kembang kol yang menjadi mata pencaharian penduduk setempat,
Sempat membuat salah satu dari kami mengeluh, 
"Cukup sekali ini saja. "

Ada kekhawatiran dan ketakutan menyelinap. 

Sementara ada pula yang bersemangat untuk segera tiba,  membuat fase pejalanan satu jam ini terasa ringan. 

Sampai akhirnya motor yang membawa kami pun berhenti di sebuah area.

Sebuah ucapan Selamat Datang 
menyambut kami di tengah beku nya pagi.


Dan kami pun terbelalak.
Keluhan kami sirna seketika. 
Pengalaman mengerikan itu pun terlupakan.

Here we are !!


Kabut tebal di bawah kaki kami 
layaknya hamparan permadani salju 
menuju ke kawah Bromo yang tampak di kejauhan sana. 

Kabut yang tidak hilang juga 
walau sinar matahari mulai datang. 
Kabut yang tampak bagai awan.

Negeri Di Atas Awan !!

Kami berdiri di atas awan !!
Kami ada di tempat tertinggi !

So amazing.


Tertinggi? 
Ternyata tidak. 
Sebuah perjalanan lagi 
siap mengantar kami ke lokasi selanjutnya,  B30.
Kami lah yang tidak siap 
untuk berangkat ke sana kali ini. 


Kami terpesona pada Sang Pencipta
Kami kagum dengan keramahannya
Kami tenggelam dalam kehangatan aura 
yang terbungkus oleh kebekuannya


B29 memang tidak dikenal banyak orang seperti Gunung Bromo.
B29 memang hanya satu sudut kecil dari kawasan wisata international itu
B29 hanya sebuah "jalan baru" yang mendadak menjadi viral karena liputan sebuah televisi swasta.

Sang reporter lah yang menamakan nya B29, sebuah bukit dengan 2900 mdpl / meter di atas permukaan laut.

Sebuah pikiran "nakal" pun menyelinap.
Sebuah hotel berskala international akan dibutuhkan di sini.

Bantahan dari penduduk Tengger 
yang mendiami area ini 
membungkam mulut kami.


Walau mata pencaharian mereka 
adalah sebagai petani kembang kol atau kubis, 
bawang dan kentang, 
namun mereka tidak pernah menganggap itu 
sebagai sebuah profesi.

Bertani adalah bentuk kepatuhan 
kepada ajaran leluhur, 
welas asih pepitu

Mereka percaya  
keharmonisan dengan alam adalah kunci kehidupan ini.
Merusak alam berarti membunuh diri sendiri.

Itulah sebabnya, 
hingga hari ini, 
tidak tampak setitik pun sentuhan tangan luar 
yang diijinkan menjamah tanah mereka.


Orang-orang sederhana ini
mengajari kami bahwa
uang bukan lah segalanya

Keharmonisan
Kerukunan
Keindahan
Kekeluargaan

Tidak dapat ditukar dengan apapun
termasuk oleh tumpukan lembaran kertas
berjudul RUPIAH 


Dari puncak gunung tertinggi
Dari negeri di atas awan
dari B29

Pasukan Sandal Jepit
akan melangkah lagi
untuk sebuah nilai kehidupan
yang tidak didapat di bangku sekolah




*Diceritakan oleh  Reni Tantra dan Andi Tasmiko










Jumat, 14 Juni 2019

Kerpekan Wolu Enem : Lahirnya Kembali “Semangat”

 Rabu, 21 Januari 2015


LAHIRNYA KEMBALI “SEMANGAT"

Dimulai dari satu hari selepas Denim Party's kita di Green Leaf, Malang......

“Boss…..” ,begitulah isi japri yg masuk ke ponselku. Pengirimnya…Miss Piggy alias Frida Kusumo


Ayo anak anak yang suka menulis tolong dikoordinir, apalagi kepengurusan sudah bubar, kita buat tulisan sebagai “alat” penyambung tali silaturahmi,” sambungnya lagi……

Mati gue, pikirku saat itu,
Maklum, dunia tulis menulis adalah hal yang asing bagiku.

Akan tetapi dengan semangat 45 nya, perempuan kelahiran 12 Desember 1967 ini terus mendesakku untuk bertindak.

“Okay” kataku kepadanya.

Setelah berpikir sejenak, terbersit pikiran kepada seorang pemuda “kutilang”, kurus, ga tinggi sih tapi langsing… So Ki Seng.....

Yah..... pemuda yang sering kubaca coretan tangannya itu, tentunya cocok untuk bekerja sama
pikirku.

Gayong bersambot ( meminjam istilah nya Lina Taneka), Qiseng (panggilan akrabnya) menanggapi dengan semangat juga, mungkin daripada nulis ora ketemu juntrung e pikirnya wakwkwkwk.

Pemuda kelahiran 31 Januari 1967, yang selalu lebih banyak tersenyum dan tertawa daripada bicaranya ini, menandakan kalau dia adalah orang yang mudah bergaul, sangat ramah serta tidak sombong.

Dari pembicaraan yang gayeng dengan Qiseng…,muncullah satu nama lagi yang juga gemar dunia tulis menulis…


Nanang Supriadi…,

Laki laki ganteng melankolis yang kita kenal sebagai pemilik rawon serta soto Rampal yang termashyur dan penggemar serial Mahabarata itu,, ternyata juga seorang penulis yang kreatif.

Di dalam kepalanya banyak ide ide cemerlang yang dengan mudah dituangkan dalam tulisan.

Laki laki yang lahir di Malang pada 1 Juni empat puluh tujuh tahun yang lalu ini pun dengan antusiasnya menerima ajakan untuk tulis menulis yang memang sudah sering dia lakukan selama ini.

Jreeeengg….pas wes…,3 penulis hebat dalam 1 team work yang kuat terbentuk.

Dengan memanfaatkan 2 sosial media yang sudah ada, yaitu FB Sanmar Wolu Enem dan grup Alumni Sanmar ’86, coretan coretan tangan mereka mulai terbit secara teratur dan terencana.

Dari rembukan di dunia maya juga akhirnya disepakati artikel terbit setiap hari Senin, Rabu dan Jumat.

Qiseng akan mengkoordinir edisi yang terbit di hari Senin, mengkhususkan diri membahas tempat  wisata, yang disertai pula dengan foto foto eksotik nya.

Sementara Nanang menjadi bapak di edisi hari Rabu, yang banyak menerbitkan artikel-artikel kuliner. Kadang edisi di hari Rabu ini pun diisi dengan motivasi atau renungan.

Dan hari Jumat adalah hari yang patut kita tunggu tunggu sebab di setiap hari Jumat, akan terbit artikel Soldier, yaitu suatu tulisan yg menceritakan temen temen kita sendiri…. Miss Piggy kita, Frida, yang langsung membidani artikel ini.

Di dalam redaksi yang relatif baru terbentuk ini, kita bersyukur karena ada lagi penulis yang cukup mumpuni ikut bergabung.


Dani Widjaja… 

Siapa yang tak kenal sosok pintar ini, disela sela kesibukannya sebagai pemimpin sebuah perusahaan besar, dia masih sempat menyalurkan hobby menulisnya.

Siapa yang menyangka kalau laki laki kelahiran 6 November 1967 juga hebat dalam menulis ?

Ada lagi yang terus mengikuti perkembangan Blog Sanmar… seseorang yang tulisan tulisan nya banyak di “like” di setiap coretan tangannya di Facebook… seorang guru besar dalam dunia tulis menulis, juga seorang yang misterius (hehehe)… Dialah Ifan Winarno yang juga ikut menyumbangkan tulisan tangannya kepada kita.

Dari munculnya beberapa nama yang nggak disangka ini, yakin dehhhh......  masih banyak cerita yang kami nggak tau tapi kalian tau. 

Berbagi yukkkk..... Cukup kirimkan cerita kalian ke sanmar86malang@gmail.com yahh......

"Tapi aku bukan penulis" 

Gak masalah, guys.... Itulah gunanya sahabat, saling melengkapi dan mengisi.... Para redaktur akan membantu kalian menjadi penulis-penulis handal, minimal menang dalam kejuaraan RT dehhh.....



See.......seperti yang sudah kita lihat dan baca akhir akhir ini, coretan tangan para penulis itu terus mengalir dan begitu kita membacanya…. hanya satu kata yang patut ucapkan….”Hebat”

Meminjam istilah Ariel Noah…. ”kalian luar biasaaa”


Itulah sekelumit cerita tentang lahirnya the “New Blog of Sanmar’86.

Dengat semangat yang belum jelas hasilnya, 
dengan semangat yang membabi buta, 
bonek, kata orang Surabaya, 
akhirnya…..bisa juga terealisasi. 

Bloger Sanmar’86 adalah wadah 
untuk tetap menjaga tali silaturahmi alumni Sanmar’86.

So, guys.....

“Semangatlah selagi masih bisa”

“Bravo Sanmar’86”

Cafe Tokoh : The Icon Sr. Francine Tjandrawati

8 Juni 2019

Susteran SPM di Kepanjen Surabaya ini tampak sedikit lebih sibuk dibandingkan biasanya.
Satu dua orang orang tampak sedang menyiapkan sesuatu.

Salah satu group di jaring sosial pun sarat dengan ucapan ulang tahun.

Salah satu penghuni susteran SPM itu berulang tahun hari itu!!  

Sr. Francine Tjandrawati.

Yahhh.... hari itu adalah ulangtahun mantan kepala sekolah ku dulu, kepala sekolah sebagian besar alumnus SMAK St. Maria Langsep Malang.



Siapa yang tidak kenal atau tidak pernah mendengar nama suster yang satu ini ?

Memiliki masa kepemimpinan yang paling lama, nama ini banyak dikenal dan dikenang oleh para alumnus.

Layaknya seorang anak manusia yang dibesarkan oleh delapan orang yang berbeda, sentuhan tangan nya selama 20 tahun dari 55 tahun usia SMAK St Maria Langsep Malang ini ,  memiliki pengaruh kuat dalam pembentukan karakter nya. 

SMAK St. Maria Malang adalah Sr. Francine.
Sr. Francine adalah SMAK St. Maria Malang.
She is The Icon

"Ciri khas sekolah katholik,"  
adalah ungkapan bijak seorang kawan 
tentang pola kepemimpinan nya di sekolah dulu


Memulai kepemimpinan nya pada tahun 1979, suster kebanggaan sekolah kita ini mengakui kekhawatiran nya saat itu, justru puluhan tahun kemudian, pada saat beberapa rekan mengunjungi nya di tempat nya menghabiskan hari-hari nya saat ini.

Bersebelahan dengan sebuah sekolah menengah kejuruan yang identik dengan "kemaskulinan" nya, kepala sekolah yang satu ini merasakan tanggungjawab moral ekstra untuk anak-anak didik nya.

Takut dan khawatir, adalah hal wajar yang dapat menyelinap ke dalam hati setiap ibu.

Di dalam posisi memilih untuk menerima atau menolak tanggungjawab itu, perempuan yang satu ini justru menantang dirinya sendiri untuk dapat mengalahkan ketakutan dan kekhawatiran nya dengan mengambil langkah pertama nya di sekolah tercinta kita.


Ketegasan dan kedisiplinan.
Itulah yang akhirnya menjadi stempel kepala sekolah yang satu ini.

Stempel yang lahir dari ketakutan dan kekhawatiran nya akan masa depan anak-anak didik nya.

"Aku sering kena hukum beliau, dan itu berdampak pada aku yang akhirnya bisa seperti ini. Disiplin pada diri sendiri dan pekerjaan," aku seorang anak didiknya yang hari ini masih aktif di sebuah instansi pemerintah dengan kedudukan yang cukup tinggi.

"Hampir semua kegiatan kita gak luput dari pantauan suster," teman lain mengungkapkan keheranan nya. "Main kartu truff semalaman, nonton midnight, Senin pagi pasti dipanggil ke kantor. Darimana dia bisa tahu ya?"

"Tiap hari dipanggil ke kantornya. Entah itu masalah ekor rambut, kancing baju yang dilepas, atau baju atas yang tidak dimasukkan ke celana," tanpa rasa malu seorang kawan bercerita berbalut dengan simpati nya yang dalam pada beliau. "Kedisiplinan nya yang bikin aku kagum."



Salah satu keputusan nya yang kontroversial adalah ketika beberapa nama tidak diijinkan untuk memasuki kelas 12, atau kelas 3 SMA waktu itu, dengan harapan bisa lulus SMA di sekolah lain.

Dengan kata yang lebih ekstrem, DIKELUARKAN dari sekolah.

Ada rasa marah
Ada kekecewaan
Ada ketidakpuasan
Ada rasa ketidakadilan

Beberapa melakukan protes langsung kepadanya.

Tapi pemimpin yang satu ini tidak bergeming sedikitpun.

Nama-nama itu diijinkan naik ke kelas terakhir nya di SMA, tapi bukan di sekolah yang dipimpin nya ini.


Puluhan tahun kemudian, keputusan nya itu justru mengundang decak kagum dari mereka yang merasa diperlakukan tidak adil tersebut.

"Kebijaksanaan yang membuat aku memiliki pikiran untuk berubah dan menunjukkan ke suster kalau aku bisa !"

"Aku yakin aku jadi lebih dewasa dibandingkan teman-teman lainnya saat itu."




Sr. Francine Tjandrawati

Kedisiplinan nya berasal dari kecemasan 
akan masa depan anak-anak didiknya
Ketegasan nya muncul 
dari air mata kekhawatiran

Cambuk nya adalah cambuk kasih
Tongkat nya adalah tongkat hati

"Beliau tulus dalam membimbing muridnya...karena  spiritualitas nya yang dalam. Tampak sekali dari cara pendekatan yang beliau lakukan secara pribadi, sehingga muridnya merasa berarti dan punya percaya diri." adalah pengalaman  beberapa orang yang sempat berada di titik terendah mereka, sekaligus yang  merasakan sentuhan lembut kasihnya.

"Seorang pembimbing moralitas kekristenan yang kuat, yang bisa menjadi bekal para muridnya. Itu pula lah yang membentuk karakter saya," kenang seorang alumnus yang hari - hari ini aktif dalam kegiatan kerohanian


Kasih nya itu pula 
yang membuat sekolah ini 
menarik perhatian teman-teman 
dari Dinas Kependidikan saat itu, 
ketika beliau memutuskan 
untuk memberikan hak pendidikan 
kepada seorang anak luar biasa.

Kasihnya yang tidak menutup mata nya 
untuk memberikan semua fasilitas 
kepada seorang anak dengan kebutuhan khusus.

Seorang anak yang sulit mendapatkan hak nya
untuk memperoleh pendidikan
di sekolah umum saat itu, 

Seorang anak yang hari ini 
mengharumkan nama sekolah 
dengan berbagai prestasi nya
di dunia international, 
justru dari kekurangan nya.

Seorang anak bernama SADIKIN,
wakil negara ini dalam AMPFA
Association of Mouth and Foot Painting Artist
sebuah organisasi international dari Jerman


Sr. Francine Tjandrawati

Beberapa keputusan mu 
mungkin sempat membuat 
kami kecewa
Kami marah
Kami sakit hati
Kami jengkel

Tapi kami ada saat ini
Karena telah melalui semua
keputusan keputusan mu itu


Tahun tahun kami bersamamu
Tidak sebanding dengan puluhan tahun
perjalanan panjang kami

Cambuk itu membuat kami tahan
Tongkat itu membuat kami kuat
Kasih itu membuat kami tegar
Hati itu membentuk kepedulian kami

Walau langit menjadi selembar kertas kosong
Dan air samudra menjadi tinta nya
Tidak lah cukup untuk menuliskan
Ucapan terimakasih kami

Tidak lah mampu menggambarkan 
betapa kami mencintai mu
Karena kau yang terlebih dahulu
mencintai kami



Selamat ulang tahun, Suster
Panjang umur dan sehat selalu
Berlimpah kekayaan hati 
Bertabur jutaan kata doa

Dari kami murid muridmu
Dari kami rekan rekan guru
Dari kami generasi penerus mu

Bravo, kepala sekolahku
Bravo, sekolahku

Bravo, Ikasanmar !!