Jumat, 26 Juli 2019

Di Dalam Bangunan Merah Kuning

Liburan telah usai.

Kubuka kembali kumpulan gambar yang sempat kurekam di kota tempat aku menghabiskan masa remaja ku dulu,  Malang.

Masih terasa perihnya hati pertama kali dulu ketika takdir membawa ku ke kota dingin ini.

This is the life.



Tidak adanya pilihan memaksa ku untuk belajar menerima takdir tersebut.

Sebagai anak remaja,  
aku memilih untuk menikmati masa masa itu 
ketimbang hanyut dalam masalah orang dewasa.

Kami memilih untuk bahagia.
Kami memilih untuk bermain.
Kami memilih untuk memanfaatkan hari hari 
yang tidak mungkin terulang kembali

Kami memilih untuk melangkah
Kami memilih untuk 
menemukan keindahan kota ini.


Dan tempat pertama 
yang kami kunjungi saat itu 
adalah sebuah bangunan tua 
dengan warna dominan merah 
di salah satu sudut kota,

Sebuah bangunan yang tampak serupa 
dengan bangunan tempat kami bermain 
di kota asal kami.

Sebuah bangunan yang membuat 
kami merasa di rumah sendiri.

Sebuah bangunan yang disebut Klenteng.


Lebih dari tiga puluh tahun kemudian
Aku kembali melangkah ke halaman bangunan ini

Klenteng Eng An Kiong 
di kawasan kota lama Malang

Dan yang pertama kali kucari adalah jajanan nya
Yang selalu ada setiap kali 
ada pertunjukan wayang potehi
pertunjukan boneka kayu adat Tionghoa

Tidak sulit mencari pujasera 
khas Klenteng Malang ini
karena segera kami temui sebelum kaki kami menapak tanah
di area parkir bangunan itu

Let's check it out 


Suka sate babi ?
Sate babi klenteng layak di coba
Potongan daging yang cukup besar
Dimasak bersama dengan lemaknya
Membuat nya terasa meleleh di lidah

Ditambah dengan saus kecap
dan irisan bawang merah
Mengundang air liur siapa pun
bahkan hanya dengan melihat nya

Dan segarnya tetesan 
air jeruk nipis
Menguatkan aroma dagingnya
Soooo yummyyy......


Stand lain nya tidak kalah menarik

Ada kue moho dengan
proses fermentasi nya yang berhari-hari
yang membuat kue mangkok yang satu ini
terasa gurih dan kenyal

Ada pula cakue, jajanan lawas
yang biasa dimakan berkuah jahe
dengan  kacang nya

Pas banget sebagai udapan di Malang yang dingin


Pada stand yang sama itu pula
Tampak dua buah kompor dengan
penggorengan  yang besar

Dari dalam minyak panas itu
beberapa heci ukuran raksasa
mengundang rasa penasaran ini

Heci jumbo yang dikenal dengan
nama heci Koh Steven ini
memiliki berbagai isian unik
yang bisa kita pesan sesuai selera


Masih ada tempat di lambung kita ?

Rujak Cingur Klenteng
atau Mie Pangsit Afuk
Layak untuk disinggahi


Selesai wisata kuliner,
masih dalam area yang sama, 
kami pun melangkah masuk
ke dalam tempat ibadah itu

Seperti puluhan tahun lalu
Aura kedamaian kental terasa di dalam nya 
membuat kami merasa nyaman
Walau kami datang bukan untuk beribadah atau sembahyang


Berbeda dengan tiga puluh tahun lalu
Kali ini aku melangkah dengan passion yang berbeda

Bangunan itu jauh lebih indah, memang
Bangunan itu lebih banyak memiliki titik titik yang instagramable dengan warna merah kuning nya.


Beberapa pengunjung tampak mengambil gambar  kenangan di sana


Ada cerita di tempat ini
Ada kisah
Ada sejarah
Ada tokoh


Ada adat budaya
Ada nilai-nilai kehidupan
yang bisa kita pelajari
dari buku - buku yang tertata
rapi di pojok ruangan


Bangunan merah kuning ini
bukan sekedar tempat ibadah

Bangunan merah kuning ini 
adalah saksi bisu lahir nya
keberadaan masyarakat Tionghoa di sana

Bangunan merah kuning ini
adalah tempat sebuah keluarga besar
berkumpul, bercerita dan bercengkrama

Bangunan merah kuning ini
Adalah tempat bagi setiap kita
tanpa memandang kasta 
dan tingkatan sosial ekonomi


Bangunan merah kuning ini
sudah menjadi tempat wisata wajib
Bagi para pengunjung kota Malang

Mulai wisata kuliner
Wisata budaya dan sejarah
Wisata rohani

Dalam satu area
Klenteng Eng An Kiong
Malang

Very recommended 
buat para wisatawan kota ini

Menyempatkan satu dua jam
Tidak lah berlebihan 
di sela sela padat nya agenda

Let's hang out and walk out
in a small reunion with friends

Bravo, kotaku !!





Jumat, 19 Juli 2019

Kreativitas Putra Putri Bangsa

"Can you take us to the colorful village here ?" seorang teman dari USA menodongku di satu hari di kota dingin Malang.

What ?
Aku pun tersentak.

Mau bilang nggak tau tempat nya kok malu.
Mau bilang iya khawatir mereka kecewa.

Langkah pertama ku pun bertanya kepada orang hotel.  Dan kudapatkan satu nama daerah : Jodipan.

Di mana pula itu ?

Langkah berikutnya adalah menghubungi seorang teman yang pernah menjadi teman jalan di Malang namun sekarang tinggal nun jauh di sana buat bertanya tentang daerah itu. Dan jawaban nya pun membuat ku tersentak untuk kedua kalinya.

"Buat apa kamu ke sana ? Kampung nya kumuh. Banyak tukang minum dan pengangguran."

Mampus dahhhhh !!

So,  buat memastikan, aku pun meminta saran  mbah Google.

My goodness !! 
The Colorful Village in Malang hadir dalam banyak itinenary paket tour dari luar negeri !!

Sebagai tempat persinggahan menuju Bromo yang sudah mendunia, awal nya mereka mencoba mencari lokasi untuk membunuh waktu di Malang. Hingga akhir nya mereka menemukan sudut ini sebagai lokasi yang cukup menarik untuk dijual.

Tampak nya kampung yang dulu terkenal sebagai sarang penyamun ini dah menyulap diri nya sebagai salah satu tempat wisata dunia !


Publikasi dari luar negeri lah yang membuat aku, yang pernah menghabiskan masa remaja di kota ini, menjadi penasaran untuk berkunjung ke sana.

Satu hari pun ditetapkan.


Dilihat dari pinggir jalan besar, atap rumah-rumah di kampung yang tampak bersebelahan dengan sungai besar itu memang tampak menarik.

Tapi, come on, bule mau masuk ke kampung itu ?

Hati ku masih setengah nya berada di dalam kendaraan waktu akhir nya aku pun mengikuti mereka turun dan melangkah menyusuri jalan masuk ke sana.

Tapak pertama sudah membuat ku excited, kawan.


Kampung, memang.
Tapi bukan kampung yang selama ini kukenal.


Mata ku silau dengan warna warni yang menghantar tapak tapak kaki ini menaiki anak tangga di jalan poros kampung itu.


Dan semakin dalam, semakin terasa suasana berbeda dengan di jalan raya tadi.


Rumah-rumah di pinggir jalan itu tidak lah berbeda dengan rumah kebanyakan penduduk asli Malang  dengan jendela kayu yang kecil untuk menahan hawa dingin kota ini.


Tembok tembok tinggi di sekeliling nya yang menjadi ciri bangunan kuno pun sama.

Tapi sentuhan yang mereka berikan sungguh membuat nya tampak istimewa.


So instagramable


Beberapa warga tampak sedang menjalankan hari hari mereka, seperti biasa.
Kesibukan mereka tampak lebih tinggi dengan kedatangan beberapa wisatawan.


Malang yang katanya sudah panas dengan terik matahari nya tidak lah kami dapati di sini.
Payung warna warni tampak berderet rapi di atas jalanan yang kami susuri hari itu.
Begitu kreatif.


Beberapa orang malah tampak menghabiskan waktu di jalanan kampung ini.


Sungguh jauh dari kesan kumuh dengan banyak pengangguran dan peminum yang dulu banyak ditemui di daerah ini.


Melangkah lebih dalam, kami pun dituntun ke sebuah jembatan yang menghubungkan kampung ini dengan kampung sebelah. Sebuah jembatan karya anak bangsa yang mengundang decak kagum setiap kita.


Jembatan yang diklaim sebagai jembatan kaca pertama di Indonesia ini membentang sepanjang 20 meter dengan lebar 1,5 meter.

Jembatan karya putra-putri sebuah perguruan tinggi di kota ini menyusul ide awal mereka.

Yah, beberapa tahun lalu, kampung ini terancam akan digusur oleh pemerintah kota setempat dengan alasan keindahan, keamanan dan kenyamanan.

Delapan orang putra putri bangsa merasa tergerak melihat kampung padat penduduk ini. 
Kehidupan sosial mereka mencerminkan kehidupan orang orang kampung khas Indonesia yang sarat dengan gotong royong dan kekeluargaan.

Mengusik mereka sama dengan menggeser budaya itu jauh ke pinggir kota yang mulai dijamah tangan tangan metropolitan  ini.


Keprihatinan mereka terhadap masalah sosial ini membangunkan kreativitas dan keberanian untuk berbicara melontarkan ide mereka. 

Kreativitas dan keberanian yang kemudian mendapat dukungan penuh dari pihak akademika dan pemerintah setempat. 

Eksekusi pun dijalankan. 

Dengan menggandeng sebuah perusahaan cat, mereka pun mulai mengoleskan kuas pertama mereka di salah satu sisi kampung kumuh itu.

Dan kampung kumuh ini pun berubah menjadi sebuah area yang membanggakan warga kota Malang. 





Ke Malang lah Aku Kan Kembali

Salah satu sudut dengan headline yang cukup eye-catching di sebuah media awal tahun ini tentang kota tempat kita bersekolah dulu,  mencuri perhatian kami.

"Malang siap mengembangkan Heritage Tourism." 
Ungkapan walikota Malang itu dikutip pada saat apel pagi di Balaikota pertengahan Januari lalu.

Wowwww.....
Heritage ? Warisan ? 
Beneran ?

Heritage bicara masalah peninggalan budaya
Peninggalan sejarah
Peninggalan kebiasaan kebiasaan para orang tua kita dulu

Heritage bicara masalah kota tua !
Malang bermaksud mempertahankan kelangsungan hidup kota tuanya !!


Malang dulu terkenal adem, sejuk semriwing... edum, dan kalau pagi sering kita dapati kabut atau pedut begitu orang Malang menyebutnya.

Jalanan masih banyak dijumpai angkutan umum roda tiga bemo dan dokar serta bronpit atau sepeda motor, dalam istilah wong Malang ... tak ketinggalan becak plus sepeda ontel turut meramaikan berlalu-lalang.

Tidak itu saja...

Masih ingat kan dengan bangunan khas
berwarna orens
dengan kotak berwarna serupa di depannya ?

Betul sekali... Kantor pos !

Kantor pos masih menjadi jujugan siapapun untuk bertukar kabar,
berkirim barang ataupun
sekedar membeli perangko.

Belum lagi dengan sosok pak posnya yang bikin kangen dengan teriakan khasnya : "pooooosss..."

Terlepas dari masalah perkotaan yang memang bukan wilayah kita, coba tanyakan pada mereka yang pernah tinggal di kota Malang pada tahun 80 an tentang kondisi Bhumi Arema sekarang.

Jawaban yang  spontan muncul adalah kalau nggak MACET ya PANAS.

Rindu tahun tahun itu.
Adalah ungkapan yang sanggup mewakili siapa saja yang pernah ada di sana.

Tentu saja.

Tidak ada lagi becak yang mangkal di depan stasiun kota atau di persimpangan jalan, seperti di pertigaan jalan Sarangan misalnya, yang sekarang telah berdiri hotel berbintang itu.


Tidak ada lagi bemo yang berseliweran di beberapa sudut kota.


Tidak tampak lagi para pejalan kaki yang bebas dari keringat karena panas nya udara atau becak yang mengangkut kita dengan satu dua orang teman di tengah hari bolong.


Begitu banyak kenangan kita di Malang, terekam rapi dalam album foto yang sudah menguning.

Album foto yang berasal dari gulungan film isi 24 atau 36 jepretan untuk 1 rol.
Gambar yang diambil dengan sangat hati-hati buat menghindari kesalahan jepret.
Foto yang dicetak dengan memecahkan tabungan ayam kita.



Sekarang panas, polusi, sejuk nya kurang,
Hanya lebih tertata rapi dengan berbagai pembangunan infrastrukturnya.
Mall dan cafe menjamur dimana mana, taman-taman  kota yang lebih indah.

Kemacetan yang timbul terutama dengan berjibun nya kendaraan roda dua tanpa diimbangi dengan pelebaran jalan, walau beberapa area tampak dah dibuka seiring dengan ekspansi kota.


Yah.....

Kami rindu kota kami dulu
Kota yang sejuk dan tenang

Kota yang membuat 
kami merasa aman
berjalan di pinggiran jalan raya
tanpa takut terserempet 
sepeda motor atau mobil 

Kota yang memungkinkan kami
melangkahkan kaki-kaki ini
tanpa takut polusi kendaraan
tanpa khawatir adanya genangan air
bekas hujan malam sebelum nya

Kota yang membuat 
kami merasa nyaman
walau dikelilingi oleh
banyak orang asing bagi kami


Tapi kami pun tidak menutup mata 
pada perkembangan jaman
yang menuntut fasilitas lebih
ruang gerak lebih
kecepatan lebih

Datangnya 25.000 mahasiswa baru dari luat daerah setiap tahun nya menuntut kota ini harus berbenah tanpa melupakan siapa mereka dulu.


Anak anak muda ini memiliki hak 
untuk belajar di kota ini.
Anak anak ini berperan penting 
dalam pertukaran budaya

Anak anak ini membuat kita bangga 
sebagai warga kota Malang
Sekaligus anak-anak ini pula lah 
yang membawa ribuan sepeda motor ke dalam kota, 
setiap tahun nya

Itu sebabnya, pencanangan Malang sebagai kota Heritage, seperti yang disampaikan pemerintah kota dalam awal tulisan ini sangat menginspirasi.

Ada warisan yang tidak bisa tidak, 
harus diselamatkan 
dari perputaran waktu
Ada peninggalan yang harus dipelihara
Ada kenangan yang harus dipahat


Team redaksi Langsep Book
sebagai bagian dari kota tercinta ini
siap memberikan kontribusi nya

lewat goresan pena mereka
lewat perjalanan panjang mereka
lewat roadshow mereka
dalam beberapa minggu ke depan

IKASANMAR
memiliki alasan untuk 
memberikan warna tersendiri 
pada reuni akbar 
bulan September nanti

Kembali ke era 80an
Kembali ke kota Malang
Kembali memutar film lama
di dalam memori kita


Sebuah moment yang
sulit untuk ditinggalkan

Sebuah kesempatan yang
belum tentu kembali lagi

Sedetik kerinduan dalam
satu seruan lantang, 

Malang, 
we are coming

Kamis, 18 Juli 2019

Dalpit Go To 🦀🐠🐙⛱️

Setelah perjalanan melelahkan kami ke Puncak B29 beberapa waktu lalu, berada dalam puncak dekapan dingin dan kabut pagi pegunungan Tengger yang eksotis.
Tik tok .... tik tok .....

"Hei.... bosen nih, yuuuk yang bisa dan ada waktu kita jalan lagi nih."

bak gayung bersambut beberapa teman mengiyakan...

Aku bisa, aku ikut yah, dia bisa, aku ajak dia juga yah..


Beranggotakan enam sahabat sanmar'ers yang notabene raja dolen  dan yang memang paling rajin keluyuran sejak kami duduk di bangku SMA dahulu.
Berangkat lah pasukan dolen ke sebuah tempat yang dahulu juga sering kami datangi, yaitu Pantai Sendang Biru di  Malang Selatan.

Tujuan kami sebenarnya adalah kawasan wisata bahari Pantai 3 Warna yang tepat berada di sebelah Pantai Sendang Biru yang terkenal itu sahabat.

Perjalanan menyusuri jalan beraspal halus dengan pemandangan alam Malang Selatan yang berkelok kelok dan bergunung gunung menambah antusias kami menikmati setiap kelokan kelokan dan tanjakan tanjakan ini, disertai celoteh dan canda tawa kami selama perjalanan menjadikan waktu terasa singkat guys.  

Roda berputar  mengantar kami dan sampailah kami di pos pertama di Pantai Sendang Biru.

Istirahat sejenak melepaskan penat setelah menempuh perjalanan panjang, disambut terpaan angin pantai selatan dan sapaan deburan ombak bergulung gulung membuat kami melupakan semua lelah ini.
Tatapan mata akan sajian pemandangan alam membuat kami betah berlama lama guys, hanya dikarenakan kami masih mau ke spot yang keren jadi tidak bisa berlama lama lagi guys.

Sebelum lanjut kami memesan beberapa makanan dahulu guys, hidangan ikan bakar dan udang serta cocolan sambal pedas semakin menambah semangat kami, sebelum mengeksplor pantai 3 warna.


Waktunya berangkat menuju ke Pantai 3 Warna  kami menyewa perahu motor  seharga 100ribu untuk PP yang banyak tersedia disini guys, pakailah baju keselamatan life jacket selama berperahu ya guys, keselamatan adalah yang utama.


Lokasi alam dengan pemandangan laut lepas pantai selatan yang cukup terkenal dengan ombak ganasnya, nampak berbeda ketika kami tiba disini.
Mungkin dikarenakan terhalang oleh pulau Sempu yang tepat berada di depannya, atau mungkin juga alam lagi bersahabat ya guys sehingga ombaknya tidak lah terlalu besar .


Hanya sekitar 10 sampai 15 menitan saja kami sudah merapat di spot keren ini guys, Pantai 3 Warna!

Pantai 3 warna merupakan kawasan yang terlindungi dan masuk dalam konservasi hutan mangrove jadi sangat terjaga sekali keberadaannya  guys, sebagai info bila hendak kemari kita wajib memesan sebulan sebelumnya atau booking terlebih dahulu untuk memastikan tersedianya kuota untuk berkunjung.

Karena dibatasi hanya 100 orang saja yang dapat berkunjung kemari setiap hari nya guys.

Pantai ini memiliki tiga warna yang berbeda yaitu warna putih kemerahan yang ada di bibir pantai, warna biru muda, dan warna biru tua. Perpaduan gradasi warna yang ciamik. Pantai ini juga dinobatkan sebagai pantai terindah di Malang Jawa Timur.



Beberapa spot tersedia bagi yang suka akan diving atau snorkling tapi disini sangat dibatasi sekali, dikarenakan kita dilarang untuk menyentuh terumbu terumbu karang yang ada.
Yah.... bisa dimaklumi karena mereka benar benar mau menjaga kelestarian habitat laut ini.

Oh ya kami dibatasi waktu berkunjung hanya 2 jam saja guys, jadi kami perlu prepare apa saja kegiatan yang akan kami lakukan dengan batas waktu segitu disini.....

yah segeralah angkat kamera mu guys, ambil sudut nya, atur diagframa nya, atur fokus nya, setel ISO nya langsung ekseskusi Objek nya .... dan bunyi jepret... jepret....jepret.... dan jepreeeettt........


Pastinya view sudah mendukung guys, untuk merekam setiap kegiatan jalan jalan kami. 

Langkah kecil kami telah membekas di bibir pantai ini, dan hasil gambaran alam ini telah terekam dalam memory card saat nya kami membagikan ke teman teman semuanya.

Inikah kami, inilah Sandal jepit
inilah yang dinamakan sahabat... 
ada atau tiada kau tetap sahabatku
* kutipan sang sahabat


Ketika ada Kesempatan, 
pergilah bersama teman teman lama, 
kumpul kumpul bukan sekedar makan  minum dan ngobrol, 
tetapi ingat waktu hidup kita  semakin singkat.

Mungkin lain waktu kita tidak bisa bertemu lagi ......
Mungkin lain waktu 
mereka sudah semakin susah untuk berjalan.
Menghabiskan sebagian waktu 
dengan teman atau sahabat 
akan membuat hidup lebih sehat  secara mental dan fisik .....

Umur itu seperti Es Batu .......
Dipakai atau tidak dipakai akan tetap Mencair .......
Begitu juga dengan umur kita
Digunakan atau tidak digunakan 
umur kita akan tetap Berkurang ........



Hal yang harus selalu dilakukan 
adalah tersenyum dan berfikir positif.

Air yang Mengalir tidak dapat berbalik arah, 
itulah hidup kita ...
Mereka tidak mungkin 
dapat berbalik menjadi muda lagi ......
Mereka akan menjadi tua sakit dan mati ......
Jalani Hidup ini dgn sabar dan santai ......


Jangan suka mau menang sendiri .......
Jangan suka menyakiti sesama ...
Jangan suka mengeluh ....
Jangan suka mencela .....
Jangan suka berdusta .......
Jangan suka berkhianat ......
Jangan suka memfitnah ......
Hiduplah dengan ceria ......

Perbanyaklah waktu 
untuk berkumpul dengan teman teman 
dan saudara saudara kita dengan damai .....

Buanglah jauh jauh sifat egois  .......
Bertemanlah dengan apa adanya, 
bukan karena ada apanya .......
Nikmati semua canda tawa ......
Hargai semua perbedaan .......


Percaya kualitas teman kita .....
Jaga perasaannya ...... 
tutupi aibnya .......
Jangan sekali-kali terbersit buruk sangka 
dalam pikiranmu terhadapnya ......

Bantu ketika dia terpeleset ......
Sediakan bahu ketika dia menangis ......
Tepuk tangan ketika dia sukses ......
Sebut namanya dalam doa kita ......



Bukan iri ketika dia dipuji orang .......
Bukan bahagia saat tahu dia sedih ......
Bukan kecewa ketika dia lebih maju ......
Bukan tertawa saat dia menderita .......

Bertemanlah dengan hati 
yang Baik dan Tulus.
Ketika hatimu baik dan tulus, 
percayalah ...... 
Allah juga akan selalu bersama kita.
Ayo bersahabat terus, 
sampai Allah memanggil mereka pulang 
ke tempat kita masing masing

============================
Diceritakan oleh Andi Tasmiko