Masih ingat tulisan The Icon Sr. Francine Tjandrawati yang pernah di publikasikan di sini 3 tahun lalu ?
Salah satu kalimat di sana berbunyi, "Ketegasan dan kedisplinan, itulah yang akhirnya menjadi stempel kepala sekolah yang satu ini, stempel yang lahir dari ketakutan dan kekhawatiran nya akan masa depan anak-anak didiknya."
Beberapa saat setelah artikel tersebut ditayangkan, beberapa teman mengirimkan pesan singkat untuk melengkapinya.
"Kelihatannya semua pernah dimarahi Suster tapi marah karena kita yang salah agar kita tahu kesalahan kita dan bisa membuat kita sekarang seperti sekarang ini."
"Jadi teringat waktu ada yang meledakan petasan didekat kantor suster sehabis upacara pagi, langsung disweeping."
"Beruntunglah kita dulu dididik oleh Sr. Francine dan team guru yang baik sehingga kita punya bekal untuk hari ini."
"Suster Kepala Sekolahku yang sangat kuhormati dan kusayangi, semoga Beliau diberikan berkat kesehatan dan umur yang panjang, aamiin.... "
Dan doa teman-teman pun dikabulkan Tuhan.
Setelah melewati masa-masa sulit selama dua tahun
dengan adanya pandemi di negara ini
Hari ini, 8 Juni 2022,
Sr. Francine masih ada di antara kita, sahabat,
Merayakan ulangtahun nya yang ke 79 tahun
Puji Tuhan !
Hati ini melompat kegirangan
Mompa balon ulang tahun
Bangun kesiangan
Komunikasi yang sempat nyelip entah di mana
Dengan pertimbangan waktu dan tempat,
Kami berkomunikasi hanya dengan beberapa sahabat
Walau hanya dengan beberapa orang mantan murid yang hadir
Walau hanya dengan beberapa menit berbincang santai dengan Sr. Francine
Lelah ini terobati
Ngantuk ini menguap
Rasa syukur terasa hangat mengalir di ruangan kecil itu
Dari atas kursi roda nya, Sr. Francine menyambut kami di ruang tamu.
Beliau mengangguk ketika diberi ucapan selamat ulang tahun seraya berkata dengan ciri nya yang khas, "Ulangtahun ku tanggal delapan."
Tanpa menanyakan nama kami seperti pertemuan-pertemuan kami sebelumnya, tanpa ada reaksi ketika kami berusaha membangkitkan kenangan beliau terhadap anak-anak didik kebanggaan nya dengan video call, tanpa mampu mengingat kami satu per satu lagi, cukup bagi kami untuk dapat memutar kembali memori kami tentang beliau.
"Kuwereng... tapi hati beliau sungguh lembut..."
"Pelajaran Bahasa Indonesia yang seharusnya gampang jadi susah."
Beberapa teman bahkan menirukan gaya beliau puluhan tahun yang lalu
Ketika kulit masih kencang
Ketika badan masih tegap berdiri
Ketika rambut masih hitam
Ketika suara masih lantang
Ketika ketegasan masih melekat
Sementara itu, tanpa menghiraukan tingkah lucu dan bandel kami, beliau menerima puding yang diberikan seorang teman untuk nya, dan memakan nya dalam hening.
Inilah beliau, Sr. Francine Tjandrawati, kepala sekolah kami, guru kami, Sang Ikon.
Dan saat Sr. Francine menggerakkan tangan nya ketika diantar keluar dari ruang tamu untuk beristirahat, The Icon SMAK St. Maria Langsep Malang itu kembali memberikan sebuah pelajaran bagi kita, para mantan murid nya.
Aku setia menghampiri mu
Langkah ku mengayun dengan pasti
Seirama dengan detak jantung mu
Indah dan harmonis
Aku berharga tapi tidak ternilai
Aku berlalu dan tidak akan kembali
Aku tidak bisa berhenti
Tidak ada jalan mundur untuk ku
Tidak ada putar balik
Ketika aku ada, aku diacuhkan
Ketika aku tiada, aku dirindukan
Ketika aku berbisik
Jejak ku lah yang menyuarakan nya
Aku lah Sang Waktu
Sebuah pelajaran berharga bagi kita
Yang masih memiliki Sang Waktu
Untuk dapat kita gunakan
Selagi masih ada kesempatan
Selagi masih ada kekuatan
Selagi masih ada kemampuan








