Pelukis ini bukan pelukis biasa.
Namanya Sadikin Pard (52) asal Malang, Jawa Timur.
Yang menjadikan Sadikin luar biasa adalah
dia melukis tidak menggunakan tangan seperti orang kebanyakan.
Tak hanya memamerkan karya lukis
yang dia buat menggunakan kaki,
Sadikin pun sudah membuat Indonesia bangga
di dunia internasional
di dunia internasional
Satu artikel penuh kebanggaan sebagai suara bangsa ini dari detik.com itu mengingatkan ku pada sebuah acara Kick Andy, ketika beliau menjadi bintang tamu pada saat acara tersebut menyumbangkan puluhan kaki palsu.
Kebanggaan yang sama itu yang aku rasakan mengalir dalam desiran darahku, walau belum mengenalnya secara pribadi.
Dan ketika ada kesempatan untuk lebih mengenalnya lewat acara yang diadakan beberapa kali untuk angkatan kami, kebanggaan itu meledak di pembuluh ku karena ternyata pelukis kebanggaan bangsa ini adalah teman satu angkatan di SMA ku dulu, St. Maria Langsep Malang !!
Kami bahkan duduk bersama dalam satu meja untuk makan malam di tengah - tengah kesibukan nya mengadakan pameran di Taman Indie, Malang.
Duhhhh.......
Malunya aku waktu itu ketika aku yang duduk di sebelah nya, mempersilakan nya makan sembari menyendok makanan ke piringku sendiri, sebelum salah seorang teman lain mengingatkan ku akan keadaan nya.
Tapi lelaki ini hanya tersenyum santai dan tertawa mendengar canda teman - temannya, tanpa ada rasa tersinggung sama sekali.
Sadikin Pard.
Samar-samar dalam ingatanku, anak IPS lulusan 1986 ini pernah aku pergoki beberapa kali di lorong--lorong sekolah.
Sebagai "pengakuan dosa", beberapa teman yang tidak pernah satu kelas dengannya saat itu, termasuk penulis sendiri, bahkan pernah mengasihaninya karena keadaan nya yang berbeda itu.
Terlahir dengan kondisi tanpa lengan,
teman teman sebayanya mengenal Sadikin
bukan sebagai orang disable
( dissability - tidak mampu)
tapi rekan yang difable
( different ability - kemampuan yang berbeda ).
Sadikin bukan orang cacat
Tapi orang dengan kemampuan istimewa.
Dan demi pengakuan ini lah,
Sadikin muda berjuang
melawan rasa mindernya
melawan rasa tidakpercayadiri nya
melawan perasaan frustasi akan keadaan fisiknya
Dia tahu apa yang dia mau
Dia paham ke mana arah hidup nya
Dan dia mengerti
Nothing's free in the world
Memasuki usia SD, ketika teman - teman sebayanya sibuk bermain, Sadikin kecil sudah mampu membuat jutaan pasang mata tertuju kepadanya ketika mendapatkan piala juara 2 dalam lomba Catur tingkat propinsi di Surakarta dan lomba kristik pada tahun 1978.
Dan ketika dia menemukan passion nya di dunia lukis, lelaki ini pun tidak berjuang setengah setengah.
Full heart
Full action
Totally dream
( gaspol - istilah Malang yang sering digunakannya )
Kakinya lincah menari di atas kanvas,
menghasilkan ratusan karya
yang mampu menggetarkan hati
para penggemarnya dan
yang membawanya ke pameran pameran lukisan
dalam dan luar negeri.
Kegigihannya menempatkan dirinya
sebagai perwakilan Indonesia
di Association of Mouth and Foot Painting Artists (AMFPA)
yang merupakan organisasi komersil
sedari tahun 2006.
Kebulatan tekadnya
membawanya melihat dunia lain,
dan membawa dunia melihat nya.
Kepercayaandirinya
melahirkan kebanggaan bangsa ini terhadapnya.
Kerendahan hatinya
menyempurnakan kebanggaan
Keluarga Besar St Maria Langsep Malang
terhadapnya
Never ever give up
adalah motto yang selalu dipegang
bapak yang satu ini
adalah motto yang senantiasa
dibisikannya di telinga kedua putra nya,
Agar nama keluarga nya tetap harum
Agar nama bangsanya semakin semerbak
Agar IKASANMAR semakin semarak
dengan kehadiran generasi-generasi baru
yang siap menoreh prestasi di dunia internasional
lewat talenta mereka
seperti yang diteladaninya
Bravo, Sadikin
Bravo, IKASANMAR
bapak yang satu ini
adalah motto yang senantiasa
dibisikannya di telinga kedua putra nya,
Agar nama keluarga nya tetap harum
Agar nama bangsanya semakin semerbak
Agar IKASANMAR semakin semarak
dengan kehadiran generasi-generasi baru
yang siap menoreh prestasi di dunia internasional
lewat talenta mereka
seperti yang diteladaninya
Bravo, Sadikin
Bravo, IKASANMAR



















