Sabtu, 30 Maret 2019

Cafe Tokoh : Dari IKASANMAR ke INTERNASIONAL

Pelukis ini bukan pelukis biasa. 
Namanya Sadikin Pard (52) asal Malang, Jawa Timur. 

Yang menjadikan Sadikin luar biasa adalah 
dia melukis tidak menggunakan tangan seperti orang kebanyakan. 

Tak hanya memamerkan karya lukis 
yang dia buat menggunakan kaki, 
Sadikin pun sudah membuat Indonesia bangga 
di dunia internasional 



Satu artikel penuh kebanggaan sebagai suara bangsa ini dari detik.com itu mengingatkan ku pada sebuah acara Kick Andy, ketika beliau menjadi bintang tamu pada saat acara tersebut menyumbangkan puluhan kaki palsu.

Kebanggaan yang sama itu yang aku rasakan mengalir dalam desiran darahku, walau belum mengenalnya secara pribadi.

Dan ketika ada kesempatan untuk lebih mengenalnya lewat acara yang diadakan beberapa kali untuk angkatan kami, kebanggaan itu meledak di pembuluh ku karena ternyata pelukis kebanggaan bangsa ini adalah teman satu angkatan di SMA ku dulu, St. Maria Langsep Malang !!

Kami bahkan duduk bersama dalam satu meja untuk makan malam di tengah - tengah kesibukan nya mengadakan pameran di Taman Indie, Malang.


Duhhhh.......

Malunya aku waktu itu ketika aku yang duduk di sebelah nya, mempersilakan nya makan sembari menyendok makanan ke piringku sendiri, sebelum salah seorang teman lain mengingatkan ku akan keadaan nya.

Tapi lelaki ini hanya tersenyum santai dan tertawa mendengar canda teman - temannya, tanpa ada rasa tersinggung sama sekali.

Sadikin Pard.

Samar-samar dalam ingatanku, anak IPS lulusan 1986 ini pernah aku pergoki beberapa kali di lorong--lorong sekolah.

Sebagai "pengakuan dosa", beberapa teman yang tidak pernah satu kelas dengannya saat itu, termasuk penulis sendiri, bahkan pernah mengasihaninya karena keadaan nya yang berbeda itu.



Terlahir dengan kondisi tanpa lengan, 
teman teman sebayanya mengenal Sadikin 
bukan sebagai orang disable 
( dissability - tidak mampu) 
tapi rekan yang difable 
( different ability - kemampuan yang berbeda ).

Sadikin bukan orang cacat
Tapi orang dengan kemampuan istimewa.

Dan demi pengakuan ini lah,
Sadikin muda berjuang
melawan rasa mindernya
melawan rasa tidakpercayadiri nya
melawan perasaan frustasi akan keadaan fisiknya


Dia tahu apa yang dia mau
Dia paham ke mana arah hidup nya
Dan dia mengerti
Nothing's free in the world

Memasuki usia SD, ketika teman - teman sebayanya sibuk bermain, Sadikin kecil sudah mampu membuat jutaan pasang mata tertuju kepadanya ketika mendapatkan piala juara 2 dalam lomba Catur tingkat propinsi di Surakarta dan lomba kristik pada tahun 1978.

Dan ketika dia menemukan passion nya di dunia lukis, lelaki ini pun tidak berjuang setengah setengah.


Full heart
Full action
Totally dream
( gaspol - istilah Malang yang sering digunakannya )


Kakinya  lincah menari di atas kanvas, 
menghasilkan ratusan karya 
yang mampu menggetarkan hati 
para penggemarnya dan 
yang membawanya ke pameran pameran lukisan 
dalam dan luar negeri.

Kegigihannya menempatkan dirinya 
sebagai perwakilan Indonesia 
di Association of Mouth and Foot Painting Artists (AMFPA) 
yang merupakan organisasi komersil
sedari tahun 2006.

Kebulatan tekadnya 
membawanya melihat dunia lain, 
dan membawa dunia melihat nya.

Kepercayaandirinya 
melahirkan kebanggaan bangsa ini terhadapnya.


Kerendahan hatinya
menyempurnakan kebanggaan 
Keluarga Besar St Maria Langsep Malang
terhadapnya

Never ever give up
adalah motto yang selalu dipegang
bapak yang satu ini
adalah motto yang senantiasa
dibisikannya di telinga kedua putra nya,

Agar nama keluarga nya tetap harum
Agar nama bangsanya semakin semerbak
Agar IKASANMAR semakin semarak
dengan kehadiran generasi-generasi baru
yang siap menoreh prestasi di dunia internasional
lewat talenta mereka
seperti yang diteladaninya


Bravo, Sadikin
Bravo, IKASANMAR





Rabu, 27 Maret 2019

Amunisi Terakhir


Dalam sebuah bincang – bincang pasca latihan baseball untuk menghadapi seorang lawan kuat, seorang pemain, Bruce,  bergumam, “Mereka lebih kuat dari kita. Bagaimana kita bisa menang ?”

Sang pelatih baseball itu menantang Bruce untuk melihat kemampuan diri nya sendiri.

Dengan mata tertutup, Bruce harus merangkak dengan tapak tangan dan tapak kaki nya sepanjang 50 yard setelah sebelum nya hanya berani bernegosiasi dengan pelatih nya itu di angka 30 yard.

Dengan satu syarat yang tidak diketahui Bruce sebelumnya : sambil menggendong seorang teman di punggungnya !


Mata nya yang tertutup tidak memungkinkan dia melihat garis yang telah disepakati.

Setelah beberapa langkah , dia bertanya pada pelatihnya, "Apa aku sudah melewati 20 yard?"
Sang pelatih hanya berkata, “Lupakan itu. Teruslah merangkak.”

Beberapa langkah berikutnya, Bruce mengeluh, "Aku harus istirahat."
Sang pelatih melarangnya, "Jangan berhenti sampai kau tidak mempunyai kekuatan lagi."

Bruce kembali merangkak.
Teriakan pelatih menguatkannya.
"Berikan usaha terbaikmu."
"Jangan menyerah."
"Lakukan yang terbaik yang bisa kau lakukan !"


Lagi lagi Bruce mengeluh.
"Aku gak punya tenaga lagi."

Sang pelatih seakan tidak mau mendengarkan keluhan pemain nya.
"Bernegosiasi lah dengan tubuhmu untuk mencari tenaga."

"Sakit."
"Aku tau."
"Terbakar."
"Biarkan terbakar."
"Aku tidak sanggup lagi."
"Berikan yang terbaik."
"Sulit."
"Tidak sesulit itu. Hanya tinggal 20 langkah lagi. 10 langkah.... 5 langkah....."

Dan ketika Bruce menyerah karena tidak sanggup lagi, sang pelatih pun membuka penutup matanya dan berbisik. "Kamu ada di ujung lapangan."


Satu pencapaian yang luar biasa dari seorang pemain dan pelatih nya.

Bruce tidak akan sanggup mengeluarkan yang terbaik yang bisa dia lakukan tanpa teriakan, support dan dukungan pelatihnya.

Rasa sakit dan lelah nya hanya akan menyempurnakan kepuasan nya ketika mencapai garis yang telah mereka sepakati, tidak lebih. 

Itu sebabnya, sang pelatih tidak mengijinkannya melihat garis tersebut, semata mata hanya untuk membuang jauh jauh rasa puas pemain nya itu. 

Yang penting sudah mencapai garis itu.
Cukup kah ?

Rasa tidak cukup lah 
yang  membuat sang pelatih 
menutup mata Bruce 
dan tidak memberitahukannya  
kapan dia harus berhenti.

Rasa tidak cukup dari sang pelatih lah 
yang membuat Bruce mampu merangkak 
5 kali lebih jauh dari yang dipikirkannya.

Dan rasa tidak cukup  yang sama ini pulalah 
yang juga membuat SMAK St. Maria Malang 
mengeluarkan program mereka sebagai amunisi terakhir.


KARANTINA SUPER CAMP UN 2019

Dari namanya, kita bisa melihat bahwa program ini dipersiapkan untuk menghadapi UN 2019, yang tentu saja akan diikuti oleh para siswa kelas 12.

Segmentasi murid dilakukan dengan cermat oleh sekolah yang satu ini.

Beberapa murid diperhatikan secara khusus  untuk sekedar bisa melalui tahun-tahun mereka di sekolah tepat waktu.

Beberapa lain nya diberikan semangat kemenangan dengan peringkat.

Sementara para jagoan kelas dipersiapkan untuk mampu bersaing di luar sekolah.


Duapuluh murid terbaik dari kelas 12 
dikumpulkan dan dikarantina, 
seminggu sebelum UN dimulai 
Untuk menemukan yang terbaik 
yang bisa mereka lakukan.

Akademik dan Spiritual 
Motivasi dan Inspirasi
Dikemas dalam agenda 5 hari
Pagi, siang dan malam


Banyak yang harus dilakukan 
Banyak tenaga yang harus dipersiapkan
Banyak waktu yang harus diluangkan

Tapi para pendidik SMAK St. Maria Malang 
tidak memperdulikan nya sama sekali.

Karena mereka paham 
beberapa murid belum maksimal 
dalam mengeluarkan semua yang terbaik 
yang ada di dalam diri mereka. 

Bukan hanya sekedar
"Yang penting lulus"
"Yang penting juara satu."
"Yang penting bisa memberikan apa yang diminta."

Tapi yang terbaik dari dalam diri mereka sendiri lah yang menjadi batas.

95 mungkin nilai tertinggi untuk sebuah mata pelajaran. 
Tapi tahukah mereka bahwa mereka sanggup mencapai angka kesempurnaan,  100 ?

KARANTINA SUPERCAMP UN 2019

Amunisi terakhir untuk 
para siswa terbaik sekolah ini
Untuk mengetahui di mana batas mereka

Seperti Bruce yang mengeluh
Sakit, Panas. Tidak sanggup. Sulit. Capek.

Para pendidik sekolah ini pun 
merangkul mereka dan berbisik

"Aku tahu."
"Bernegosiasilah dengan tubuhmu."
"Biarkan tangan mu terbakar."
"Teruslah melangkah."
"Tinggal 5 langkah lagi."


Amunisi terakhir telah disiapkan 
SMAK St Maria Malang
Untuk pasukan elite nya

Pastikan dirimu ada di sana
Gunakan amunisi nya
Tutup mata dan tellinga mu
Kerahkan semua yang kau bisa

Tanpa ada batasan
Tanpa melihat tinggal berapa langkah lagi
Tanpa melihat ada di posisi mana
Dan kau akan melihat......

"Kau sudah berada di ujung lapangan"




To trust yourself is to test your limit.
That is the courage to succeed.
( Bernard Emond - Writer & Director )


BRAVO SMAK SANTA MARIA MALANG 






Kamis, 21 Maret 2019

Sekolahku, Dulu dan Sekarang

Melangkahkan tapak pertama ku di halaman sekolah yang berada di Jalan Raya Langsep 41 Malang setelah meninggalkan nya lebih dari tigapuluh tahun lalu, tak terasa air mata ku pun menetes.

Di sini lah aku mengenal
arti tanggungjawab yang sebenarnya.
Di sini lah aku mengerti arti sebuah hubungan
Di sini lah aku memahami sebuah kewajiban
Dan dari tempat ini lah
aku menemukan jalan kehidupan ku.

Passion, Talenta dan Cinta.

Seakan terkemas di dalam
sebuah paket makan siang 
sebagai bekal ku
beberapa puluh tahun kemudian.

Sekolah ku,
SMAK St Maria Malang.



Dan aku pun disambut oleh sapaan ramah sang receptionis di tempat nya yang megah, cermin konsistensi sekolah ini akan sebuah arti rambu rambu agama di tengah hingar bingar nya globalisasi dengan berbagai paham yang dimiliki dunia pada abad teknologi ini.

Belum habis mataku menyapu setiap sisinya, salah satu sudut membuat ku terpana sekian detik.

Arti kekristenan tercermin dari patung Bunda Maria di sudut ruangan !


Kekristenan yang identik
dengan kasih dan pengampunan.
Kekristenan yang sarat
dengan damai dan sukacita.

Kekristenan yang memiliki
nilai-nilai hubungan dengan sesama 
tanpa memandang agama, suku
atau paham yang mereka anut.

Inilah yang kita perlukan.
Inilah yang dibutuhkan generasi berikutnya sebagai manusia yang berguna bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, bagi masyarakatnya, dan bagi dunia nya.

Dipersilakan menunggu, jemari ku meraba sofa eksotik yang ada di sana.

My goodness.....
Ini adalah sofa lama !!
Lebih dari tiga puluh tahun yang lalu, aku duduk di kursi ini sebagai calon murid !

Tapi bukan, ini adalah sofa baru.
Cantik dan bersih
Indah dan anggun.

Tepatnya, ini adalah sofa lama yang telah rusak dan terabaikan di pojok gudang selama puluhan tahun.

Tangan dingin Zr. Theresella Karti, kepala sekolah mulai tahun 2016 lah yang membuatnya kembali kepada fungsi nya dengan seribu kisah yang direkam nya selama hampir enampuluh tahun, sebuah saksi bisu dari generasi ke generasi.



Dan anak tangga itu ?

Anak tangga itu pun punya cerita.....

Tentang tegoran seorang  guru
Tentang tangis seorang gadis muda
Tentang sorak girang sekelompok pemuda
Tentang mimpi dan cita-cita

Tentang aku, kamu dan dia

Tidak heran, sekelompok orang yang menamakan dirinya sebagai Ikatan Keluarga  SMAK St Maria Malang / IKASANMAR mengundang ku ke sini hari ini, untuk membentuk wadah bagi jutaan kisah-kisah itu.

Dan di sinilah, kursi tua dan tangga itu bercerita.

Dari mulai berdirinya sekolah ini ketika dipimpin oleh Zr. Gerarda M Verhoff dari Belanda pada tahun 1960, sampai hari ini, dan hingga bumi ini pun harus menutup usia nya.



Entah sudah berapa kali 
kepala sekolah berganti.

Entah sudah berapa periode 
pimpinan negara ini pun turun dan naik.

Bahkan sepanjang ingatanku, 
dua kali sudah krisis moneter 
menghantam bangsa ini.

SMAK St Maria Malang 
tetap memegang nilai-nilai nya yang  
Competence, 
Creative-Inovative, 
dan Harmony

Berangkat dari kepedulian 
terhadap generasi berikut pada umumnya, 
dan sekolah ini pada khususnya, 
blog ini pun terbentuk.

www.sanmarforever.blogspot.com

Untuk merekam sejarah
Untuk mengukir kenangan
Untuk mencatat prestasi

Dengan ide dari kepala sekolah SMAK St Maria Malang periode 2018/2019, Zr. Theresella Karti, kreatifitas dari Ikatan Keluarga SMAK St. Maria Malang, dan sebongkah semangat keharmonisan dari Organisasi Siswa Intra Sekolah, empat orang alumnus yang juga blogger pun bergandengan tangan mewujudkannya.

Di dalam ruang ini lah, kami sediakan banyak sudut sesuai dengan passion kita masing-masing.

Ada Pojok Kampung 
untuk aktifitas kita.
Ada Cafe Tokoh 
untuk para tokoh inspiratif dari keluarga ini.

Ada Warung Nusantara 
untuk tulisan-tulisan kuliner.
Ada pula Sudut Jepretan 
untuk bercerita lewat hasil jepretan kita sendiri.


Team redaksi siap membantu untuk memolesnya agar dapat dikonsumsi publik.

Ada Sugeng Harijanto di  Genteng, Jember;  Nanang Supriadi di Malang, Qi Seng di Palu dan Frida Kusumo di Sidoarjo.

Terbuka untuk para alumni dan calon alumni, 
kami mengundang setiap kita untuk corat coret menuangkan ide.

Kirimkan tulisan kita ke :
- sanmarlangsep@gmail.com
- herysoegenk@gmail.com
- qsengch@gmail.com
- frida.kusumo@gmail.com
- rafialif@gmail.com

Abadikan kisah mu
Jepret kenangan mu
Bingkai dalam wadah abadi

Biarkan mereka hidup 
dari masa ke masa
Ketika tongkat estafet diberikan

Dan SMAK St Maria Malang 
pun memiliki cerita 


Di atas meja kecil ini
masih tercium harum darahmu

di halaman-halaman buku.

Sabda sudah menjadi saya.

Saya akan dipecah-pecah

menjadi ribuan kata dan suara.


( Joko Pinurbo )

Bravo SMAK St Maria Langsep Malang