Jumat, 26 April 2019

Cafe Tokoh : Sang Legenda IKASANMAR

Sekelibatan tampak bayangan kecil yang manis dengan potongan tomboy di antara para undangan di acara IKASANMAR Bali bulan April lalu, satu sosok yang sempat mencuri perhatian ku.

Dan ketika kujabat tangannya, dia melihatku dengan pandangan aneh.

"Kayak pernah tau yaaaaa......"

Biuhhhhh....... ibuuuuuuuu...... ini murid mu dulu....


Walau dalam benak ku,
aku pun lupa-lupa ingat dengan bu guru olahraga ini.
Maklum, aku pun bukan penggemar mata pelajaran yang satu ini.

Penampilan nya saat itu langsung aku kenali karena banyaknya cerita yang aku dapat tentang pembawa obor Asian Games tahun lalu ini, yang membuat jemari ku sibuk menjelajahi almari mbah Google.

Bangga dong.....

Karena ibu guru ku dari SMAK St. Maria Langsep Malang masuk dalam sejarah pesta olahraga se benua Asia  !!


Tri Wahyuni.

Perayaan pengabdiannya selama 25 tahun di sekolah kesayangan kita sebagai pegawai tetap membuat setiap kita tidak bisa menyangkal, bahwa dia pernah mengajar sebagian besar anggota IKASANMAR.

Memiliki guru dengan segudang prestasi yang diakui dunia internasional seperti ibu dua orang anak gadis ini, tentu saja mampu membuat dada kita membusung dan mata kita berbinar ketika kita mengatakan, "Aku pernah menjadi muridnya di SMA dulu."



Dia sudah tidak muda lagi, tapi tetap tampak awet muda

Lebih dari tigapuluh  tahun yang lalu, dengan prestasi nya memenangkan medali emas pada saat Pekan Olahraga Nasional secara berturut-turut, perempuan mungil ini sudah mampu menarik perhatian dunia persilatan tanah air.

Bukan hanya di dalam negeri,  nama Tri Wahyuni pun bersinar di arena kejuaraan-kejuaraan dunia dengan memborong medali-medali emas nya.



Tidak heran, ketika Pemerintah RI mensejajarkan nama bu guru yang manis ini dengan atlit legendaris di tanah air, seperti Rudi Hartono dan Susi Susanti di bidang bulutangkis , atau Chris John di cabang tinju.

Tri Wahyuni adalah atlit legendaris Indonesia di cabang pencak silat !

"Para atlit muda harus bisa melihat bahwa kami masih exist. Prestasi kami akan dikenang sepanjang sejarah."



Tri Wahyuni.

Kebesaran nama nya tidak lepas dari dukungan  orang orang di sekitarnya sedari usia sekolah. 

Tri kecil mendapat dukungan penuh dari keluarga nya  ketika olahraga yang identik dengan kaum Adam ini menjadi pilihan nya. Lingkungan masa kecilnya di Kendalpayak, Malang Selatan lah yang membuatnya jatuh cinta pada pencak silat, olahraga yang memiliki unsur beladiri, tari dan kerohanian ini.

Bukan hanya pencak silat,  Tri bahkan ada di dalam klub sepakbola wanita pada jaman nya, ketika  banyak hal hal tabu pantang dilakukan oleh seorang anak gadis, termasuk kegiatan-kegiatan maskulin.

Memasuki usia nya di dunia kerja, Tri muda juga mendapatkan dukungan yang luar biasa dari tempatnya mengabdi, SMAK St. Maria Malang. Peran keluarga baru nya pun ikut memoles  bakat luar biasa nya.

Sebagai istri seorang polisi dan ibu muda dari dua orang anak gadis, tidak lah mudah untuk mendapatkan kepercayaan keluarga, namun Tri muda dengan management kepentingan nya membuktikan dirinya sanggup membayar lunas semua pengorbanan keluarga nya dengan memberikan segudang prestasi yang membanggakan.


Tri Wahyuni

Suara nya terdengar pelan ketika meneriakkan jeritan hati nya tentang keberadaan ekstra kurikuler di sistem pendidikan kita, yang membuat bintang-bintang muda olahraga tidak dapat bersinar secara maksimal, sepelan bisikan keprihatinan nya akan pendidikan karakter seorang anak muda.

Adanya tuntutan untuk berpacu mendapatkan nilai akademik tertinggi, membuat seorang anak didik kekurangan waktu untuk mengembangkan talenta mereka di bidang olahraga, bidang yang justru mencuatkan nama SMAK St. Maria lewat guru olahraga nya.

Padahal, dalam survey nya terhadap 733 millioner di US,  Thomas J. Stanley, penulis buku Millionaire Mind, menemukan bahwa nilai akademik dan IQ bukanlah faktor penentu sebuah kesuksesan. 



Walaupun sebagai tenaga pengajar 
di SMAK St. Maria Langsep Malang, 
ibu Tri Wahyuni sadar banget 
akan tuntutan nilai maksimal di dalam kurikulum kita.

Berbeda pendapat dengan para wali murid yang melarang anak-anak mereka aktif dalam organisasi siswa intra sekolah / OSIS, dengan bijak dan rendah hati ibu guru lulusan IKIP Negeri Malang yang satu ini mencontohkan putri nya yang mendapatkan beasiswa ke Belanda walaupun selalu terlibat aktif di organisasi.

Kami para guru memiliki
kewajiban dan tanggungjawab 
untuk melatih skill & knowledge,
ketrampilan & pengetahuan,
secara bersamaan
( Tri Wahyuni )



Tri Wahyuni

Prestasi membanggakanmu
Meneriakkan pula kepedulian kami
Akan sebuah system pendidikan
Yang mampu menerapkan
Setiap ilmu yang dipelajari
Para generasi penerus kita

Untuk Indonesia yang lebih baik


Bravo, The Legend

Bravo, IKASANMAR



Jumat, 19 April 2019

IKASANMAR Dengan Bulan Yang Sama

Pulau Dewata.
Denpasar - Bali
Undangan perayaan ulang tahun ke 2
Ikasanmar Bali

Kami pun berangkat.



Makan siang di hari pertama 
sebagai turis dadakan di pulau dewata, 
sebuah kata pengantar sanggup membuat mata lelah ini berbinar, 
mampu mengembalikan tenaga dan stamina.

Bagaimana tidak?

"Cari pak Frans di Bu Kris sana,  dia anak SMAK St Maria Malang."

Tidak heran bila kemudian rasa lapar pun hilang walau makanan sudah siap di hadapan kami ketika lelaki yang satu ini duduk di meja yang sama bareng kami.


Satu saudara lagi kami temukan.

Sebuah pengalaman yang luar biasa dari erat nya ikatan antar alumni di IKASANMAR Bali.

Dimulai dari logat yang tidak asing bagi sebagian besar kita,  para perantau di Bali sanggup menebak dengan benar daerah asal kenalan baru mereka.

Lagu yang kemudian mereka nyanyikan pun sama,

"Bukan dari Bali ya?!"

"Dari Malang kah?"

"Sekolah di mana dulu? "

"Ikut kumpul di IKASANMAR yukkkk...."

"No hape nya berapa? "


Dari dua orang menjadi empat. 
Dari empat menjadi delapan. 
Dari delapan menjadi enam belas....



Di lain pihak, sekolah pun berperan penting dalam organisasi ini.
Bukan rahasia lagi ketika pihak sekolah yang diwakili guru dan kepala sekolah diundang hadir dalam acara-acara reuni di tiap angkatan.

Zr. Theresella, kepala sekolah SMAK St.Maria Langsep Malang saat ini adalah seorang yang peduli dan memberikan support penuh untuk para alumni.

Sehingga sempat tercetus kata-kata penuh harap dengan nada rendah, "Zuster jangan cepat-cepat lengser yah....."

Tentu saja itu pula harapan kita semua, karena setiap kali beliau berkenalan dengan seorang alumni dari Bali,  dipertemukanlah mereka kepada pengurus IKASANMAR Bali.

Satu orang...
Menjadi dua orang.
Tiga orang....
Empat....
Lima....
Enam.....

Media sosial pun dimanfaatkan.
Unicorn ( istilah untuk tehnologi digital ) pun dijinakkan
Video call dimaksimalkan.
Kopi darat dilakukan secara rutin.


Bagaikan kegiatan rutin layaknya aktifitas setiap kita membuka mata di pagi hari, mereka lakukan itu dari waktu ke waktu, di sela-sela kesibukan mereka.

Tanpa ada keraguan.
Tanpa pikiran yang terbeban.

Di ulang tahun nya yang kedua di bulan April 2019 ini,  
penulis pun ternganga melihat perayaan mereka.

Dari dekade 70 an, hingga lulusan terakhir di tahun 2019, 
tumplek blek di sebuah cafe di sudut kota Denpasar.

50 orang alumnus !!



Ada nyanyian ulang tahun.
Ada pula Mars SMAK St. Maria Langsep yang baru terdengar beberapa tahun terakhir ini.

Ada recognation.
Ada pula game pemersatu.

Ada sumbangan snack sebagai ajang promosi usaha kuliner seorang kawan
Ada pula voucher discount dari lapak seorang rekan.

Ada sumbangan souvenir dengan branded seorang sahabat.
Ada pula door price karya beberapa teman.

Bahkan panitia sempat kewalahan dengan banyaknya door price yang terkumpul.
Sehingga bintang-bintang dadakan pun bersinar.
Dari alumnus paling senior sampai anggota yang paling heboh pun ada penghargaannya !!


Semua dari IKASANMAR Bali.
Semua hanya untuk anggota IKASANMAR Bali.

Ada rasa bangga menyelinap
Ada ucapan syukur
Ada harapan untuk pertemuan berikutnya.

Visi IKASANMAR adalah kekeluargaan, keilmuan dan kemasyarakatan.

IKASANMAR Bali sudah berada dalam tahap penggemukan visi pertama IKASANMAR : kekeluargaan.

Inilah yang disebut Mujizat di dalam sambutan kepala sekolah SMAK St. Maria Malang, Zr. Theresella Karti, yang melihat nya sebagai upaya mempersatukan kembali tulang tulang yang berserakan agar kembali terbentuk secara utuh.


Berkumpul, saling mendukung,  saling mendoakan,  dan saling membantu.

Keterlibatan aktif para pengurus.
Respon seluruh alumni.
Adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Pemilihan waktu yang tidak tepat,  tengah minggu,  bukanlah halangan.

Walau kadang ada yang membuat mereka goyah, namun kekompakan, kebersamaan dan persatuan yang kuat menumbuhkan kesabaran dan loyalitas mereka

Mujizat lain adalah bagaimana IKASANMAR Bali sudah siap untuk menyusun strategi guna melaksanakan misi mereka menuju ke visi kedua dari IKASANMAR : Keilmuan.


Adalah tentang bagaimana SMAK St. Maria ini dikenal dan diakui oleh setiap generasi yang rindu menuntut ilmu di kota dingin Malang.

Adalah tentang bagaimana membangun kembali image yang sempat tercoreng beberapa tahun belakangan ini.

Adalah tentang bagaimana para pelaku pendidikan di sana terkenal karena inovasi-inovasi nya yang bukan hanya mengajar, namun juga mentoring and coaching.

Ing ngarso sung tulodo ( di depan memberi contoh )
Ing madyo mangun karso ( di tengah memberi bimbingan, prakarsa dan ide )
Tut wuri handayani ( di belakang memberikan arahan dan dorongan )

Adalah tentang bagaimana para orang tua dapat melihat kesiapan anak-anak mereka dalam menerapkan ilmu-ilmu yang mereka dapatkan di sekolah.

Seperti seorang anak yang masih berusia dua tahun,  di hari hari selanjutnya,  sang anak harus mulai dipersiapkan untuk masuk ke sekolah pertama nya,  TK, dengan  uji coba 2-3 kali tiap minggu nya di  pra-TK, demikian pula IKASANMAR Bali harus mulai mempersiapkan diri nya untuk dapat melangkah ke level berikutnya.

Semua ide, aktifitas dan kreatifitas, \
hendaknya senantiasa dikembalikan lagi  
kepada Visi, Misi, Sasaran dan Tujuan 
dibentuknya Ikatan Keluarga Besar 
SMAK St. Maria Langsep Malang ini.

( Zr. Theresella Karti -
Fifteen Cafe Denpasar, 11 April 2019 )


Sebuah ikatan alumni tidak akan bisa besar tanpa regenerasi.
Tanpa regenerasi, ikatan alumni hanya akan menjadi red panda yang terancam punah.

Sementara jumlah murid baru selalu berbanding lurus dengan jumlah alumnus.

Seperti yang dikatakan sang proklamator kemerdekaan RI, Ir. Soekarno,

"Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut Semeru sampai ke akar-akarnya. Tapi beri aku sepuluh orang pemuda, niscaya aku akan mengguncangkan dunia."

Inilah visi kedua dari IKASANMAR : Keilmuan.

Kualitas dan kuantitas, itulah yang mengidentifikasikan para lulusan SMAK St. Maria Malang.

IKASANMAR Bali sudah mulai melangkah ke arah sana ketika alumnus 2019 siap bergabung bersama mereka, dengan salah seorang dari mereka terkena mantra cup cap cup kembang kuncup nya Zr. Theresella sebagai pengurus.

Jiwa patriotik mereka tampak jelas ketika menggemakan Mars SMAK St. Maria Malang



Satu tekad mari bergandeng tangan
kita bina persaudaraan
tekun belajar, terus berkarya
ikut mencerdaskan bangsa

Bersemboyan C2H kita siap 
menghadapi tantangan masa depan
Competence Creative
Innovative dan Harmony
menjadi pedoman di hati

Teguhkan niat, raih prestasi
Budayakan kejujuran
Berbudi luhur, berbelas kasih
Tulus dalam pengabdian

Di bawah perkumpulan Dharma Putri
SMAK Santa Maria
tetap kujaga, tetap kubela
di dalam suka maupun dalam duka
tetap kujaga, tetap ku bela
Kini dan selama-lamanya

( Drs. Gabriel Mado Ulu / 1954-2018 )

Inilah yang membuat kota ini berbeda dengan kota kota lain, bahkan dari Malang sendiri sebagai kampung halaman IKASANMAR .

"Belum menemukan orang yang tepat," bukan lah sebuah alasan bagi mereka.

Seperti yang dikatakan Jim Collins, "Visi yang besar tidak memerlukan orang-orang yang besar." Sebaliknya, visi yang besar lah yang membuat orang-orang di dalam nya menjadi besar.


IKASANMAR Bali sudah mampu memandang bulan yang sama seperti yang dilihat ibunda mereka di Raya Langsep 41 Malang.

IKASANMAR Surabaya seharusnya memandang bulan yang sama juga,  bukan?!
Dan IKASANMAR Jakarta ?

Bagaimana dengan Sang Putra Mahkota yang seharusnya menjaga singgasana mereka di Malang,  IKASANMAR Malang ? 

Bukankah para calon alumnus 2019, 2020 dan tahun-tahun selanjutnya adalah aset terbesar sebuah ikatan alumni ?

Bukankah kerinduan akan visi IKASANMAR mampu mempertemukan para calon alumnus tersebut dengan komunitas di daerah mereka masing-masing, sehingga mereka tetap berada di jalur mereka untuk dapat melakukan yang terbaik untuk masa depan mereka sendiri, untuk keluarga mereka, dan untuk mengharumkan kembali nama besar SMAK St. Maria Malang ?

Ketika kita memandang bulan yang sama
Kita melihat visi yang sama
Kita merasakan passion yang sama
Kita memikirkan misi yang sama

Walau dengan strategi yang berbeda
Walau dengan tantangan yang berbeda


Bravo, IKASANMAR Bali Nusra
Bravo, IKASANMAR

Jumat, 12 April 2019

Wisata Nusantara : SI JERAWUT ARBANAT

Guys, bagi pecinta jajanan tradisional wajib merasakan legitnya makanan ini.

Disajikan dalam warna Pink atau agak Oranye.
Rasanya cukup manis dan lengket karena kandungan gulanya cukup banyak.
Ya itulah Arbanat, guys. 

Orang-orang suka menyebutnya Arum Manis.

Penjualnya biasanya bapak-bapak yang sudah tua, sederhana, dan mengenakan topi bundar dari anyaman rotan atau berbahan kain berwarna hitam. 

Jajanan tradisional ini rupanya masih bertahan dan cukup digemari meski pasar makanan modern kian membanjiri disana sini. 

Bapak-bapak penjual Arbanat ini akan membawa semacam kaleng krupuk dalam posisi horisontal dengan dua wadah, satu wadah untuk Arbanatnya, dan satu wadah lagi untuk tempat uang.

Untuk menarik pembeli, sambil berjalan mengitari kampung, Bapak penjual ini akan memainkan alat musik semacam Rebab dengan bunyi yang biasanya cuma asbun 'asal bunyi', berbeda dengan Rebab yang asli. 

Alat musik ini pun hanya dibuat dari kayu yang asal-asalan, kaleng bekas untuk resonansi suaranya, senar yang mungkin dari kawat kecil, serta alat gesek. Bunyinya cukup nyaring, sehingga dari jarak cukup jauh bisa terdengar.


Cara penyajian Arbanat ini pun sangat sederhana. Arbanat akan diberikan kepada pembeli hanya dengan diberi alas potongan kertas bekas berbentuk kotak. 

Maraknya berbagai jenis makanan anak-anak secara tidak langsung mempengaruhi penjualan Arbanat. 

Dulu  para penjual Arbanat ini biasa kita temui di depan sekolah-sekolah dan di gang-gang atau jalan-jalan kampung, namun kini jumlah mereka semakin sedikit. 

Sepertinya perlu tempat khusus untuk menampung aneka jenis makanan tradisional, sehingga generasi muda masih dapat mengenalnya. Sementara bagi generasi tua, mungkin banyak kenangan atau kisah manis tentang jajanan tradisional tersebut.

So.....  Mari kita lestarikan kudapan nan manis ini, guys.


( disadur dari www.sanmar86langsep.blogspot.com - So Ki Seng )